kursor

Sabtu, 15 Februari 2014

PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM “ Kerangka Ilmu Menurut Al-Quran ” Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan Masyarakat Islam Dosen Pengampu : Marsaid, M.Pd.I Disusun oleh Kelompok : I Dewi Kusmawati NPM : 1281651 Disusun oleh : Kelompok I Dewi Kusmawati 1282651 Mely Pusvita 1283771 Nurlaila Tunnajiah 1284121 Jurusan/Prodi Tarbiyah/PAI Kelas H PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI JURAI SIWO METRO 2013 ABSTRAK KERANGKA ILMU MENURUT AL-QUR’AN OLEH DEWI KUSMAWATI MELY PUSVITA NUR LAILATUN NAJIAH Hubungan antara ilmu dengan manusia adalah sangat erat, sebagaimana telah dijelaskan didalam Al-Qur’an yaitu menurut Al-Qur’an bahwa manusia itu adalah makhluk yang paling berpotensi dalam menguasai ilmu pengetahuan. Sehingga dengan potensi yang dimiliki manusia dapat mengembangkan ilmu yang telah dimilkinya sehingga memunculkan klasifikas-klasifikasi ilmu pengetahuan yang merupakan buah pemikiran dari beberapa ilmuwan muslim. Dari klasifikasi ilmu tersebut terjadi pengembangan-pengembangan lagi yang lebih spektakuler yang sesuai dengan perubahan zaman. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa penemuan-penemuan manusia berhasil menyingkap rahasia alam, yang lebih banyak lagi dibanding dengan sebelumnya. Kemajuan ilmu pengetahuan ini jugalah yang melahirkan teknologi-teknologi yang cukup dahsyat dan mengagumkan , misalnya saja seperti saat ini kemajuan dalam bidang elektronika yang semakin memudahkan kita dalam membantu perkejaan kita atau bahkan mencari sebuah informasi. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan ini seharusnya manusia itu harus menjadi seorang khalifah bumi yang bertanggung jawab, yang bisa menjaga bumi. Karena kita harus mengakui bagaiman kebesaran Tuhan atas alam ciptaan-Nya. KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga makalah Pengembangan Masyarakat Islam yaitu tentang “ Kerangka Ilmu Menurut Al-Qur’an“ ini dapat terslesaikan sebagaimana mestinya. Shalawat serta salam tidak lupa kita haturkan kepada junjungan Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, atas bimbingan Beliau sehingga kita dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ucapan terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Masyarakat Islam yang telah memberikan kami kesempatan untuk membuat makalah ini sebagai pedoman, acuan, dan sumber belajar. Akhir kata, semoga tugas mandiri ini bisa menambah wawasan atau pengetahuan bagi penyusun maupun bagi para pembaca serta bisa di manfaatkan sebagaimana mestinya, dan dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pengetahuan bagi kita semua. Penyusun DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. i ABSTRAK ii KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI iv BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 1 C. Tujuan 1 BAB II PEMBAHASAN 3 A. KERANGKA ILMU MENURUT AL-QUR’AN 3 1.1 Kerangka Ilmu Menurut Prespektif 3 1.2 Klasifikasi Ilmu Pengetahuan 7 1.3 Laju Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dewasa Ini dan Implikasinnya 9 1.4 Implikasi Kependidikan 11 B. AL-QUR’AN DAN ILMU PENGETAHUAN 12 1.1 Pengertian Ilmu Pengetahuan 12 1.2 Kolerasi Antara Pernyataan-pernyataan Al-Qur’an dan ilmu Pengetahuan 13 1.3 Khalifah yang Bertanggung Jawab 18 1.4 Bimbingan Allah SWT Melalui Al-Qur’an 19 C. ILMU DAN TEKNOLOGI 22 1.1 Ojek Ilmu dan Cara Memperolehnya 23 1.2 Pengembangan dan Penerapan Sains 24 1.3 Teknologi Bagi Pembangunan 26 BAB III PENUTUP 27 A. Kesimpulan 27 B. Saran 27 DAFATAR PUSTAKA 28 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Telah kita ketahui bagaimana perkembangan teknologi pada saat ini yang merupakan implikasi dari perkembangan ilmu pengetahuan, yang membawa perubahan yang sangat besar terhadap dunia ini. Dari amana semua pengetahuan itu didapatkan? Maka makalah ini akan membahas kerangka ilmu pengetahuan menurut Al-Qur’an, yang dimana dengan kerangka inilah ilmu pengetahuan menjadi berkembang pada saat ini. Sudah sangat jelas bahwa ilmu pengetahuan telah banyak di jelaskan dalam ayat Al-Qur’an maupun hadits B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana kerangka ilmu menurut prespektif Al-Qur’an? 2. Apa saja klasifikasi ilmu pengetahuan? 3. Bagaimanakah laju perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini dan implikasinya? 4. Apakah yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan? 5. Apakah kolerasi antara pernyataan-pernyataan ilmiah Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan? 6. Bagaimanakah khalifah yang bertanggung jawab itu? 7. Bagaimanakah bimbingan Allah SWT melalui Al-Qur’an? 8. Bagaimana pengembangan dan penerapan sains? 9. Bagaimana tekhnologi bagi pembangunan? C. Tujuan 1. Mahasiswa diharapkan mampu memahami kerangka ilmu menurut Al-Qur’an 2. Mahasiswa diharapkan mampu mengklasifikasikan ilmu pengetahuan 3. Mahasiswa diharapkan mampu mengambil hal-hal yang positif dari laju perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini dan implikasinya 4. Mahsiswa diharapkan mampu memehami apa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan 5. Mahasiswa dirapkan mampu memahami kolerasi antara pernyataan-pernyataan ilmiah Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan 6. Mahasiswa diharapakan mampu menjadi seorang khalifah yang bertanggung jawab 7. Mahawiswa diharapkan mampu memahami bagaimana bimbingan Allah SWT melalui Al-Qur’an 8. Mahasiswa diharapkan mampu memahami pengembangan dan penerapan sains 9. Mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan tekhnologi bagi pembangunan BAB II PEMBAHASAN A. KERANGKA ILMU MENURUT AL QUR’AN 1.1 Kerangka Ilmu Menurut Prespektif Al-Qur’an Menurut Al-Qur’an, manusia adalah makhluk yang berpotensi untuk menguasai ilmu pengetahuan. Kemanusiaan semua ( insaaniyyatul-insan ) dapat diukur dengan interaksinya dengan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dikemukakan didalam Al-Qur’an agar manusia bekerja pada amal-amal yang menghasilkan ilmu (afala yanzhurun; afala ta’qilun; afala tatadabbarun; inna fi dzaalika la-aayaatin liqaumin ya’qilun...., dan sebagainya); manusia diangkat sebagai khalifah, dibedakan dari makhluk lainnya, karena ilmu (wa ‘allama aadam al asma-a...., al-Baqarah: 30-33); manusia ideal dalam pandangan Al-Qur’an adalah manusia yang mencapai iman dan ketinggian ilmu (al-Mujaadalah:11);                                  Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan padamu: ‘Baerlapang lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Mujaadalah: 11). Dari ayat tersebut dapat diketahui tiga hal sebagai berikut : Pertama, bahwa para sahabat berupaya ingin saling mendekat pada saat berada di majelis Rasulullah SAW, dengan tujuan agar ia dapat mudah mendengar wejangan dari Rasulullah SAW yang diyakini bahwa dalam wejanganya itu terdapat kebaikan yang amat dalam serta keistimewaan yang agung. Kedua, bahwa perintah untuk saling meluangkan dan meluaskan tempat berada dimajelis, tidak saling berdesakan dan berhimpitan dapat dilakukan sepanjang dimungkinkan, karena cra demikian dapat menimbulkan keakraban diantara sesame orang yang berada didalam majelis dan bersama-sama dapat mendengar wejangan Rasulullah SAW. Ketiga, bahwa pada setiap orang yang memberikan kemudahan kepada hamba Allah yang ingin menuju pintu kebaikan dan kedamaian, Allah akan memberikan keluasan kebaikan di dunia dan diakhirat. Allah SWT melarang kita mengikuti sesuatu yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya (al-Isra’: 36).         •          Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Manusia, menurut Al-Qur’an, dapat memperoleh ilmu pengetahuan melalui berbagai cara yaitu: melalui indera, seperti sam’a ‘pendengaran’ (biyasanya bersifat verbal), bashar ‘penglihatan’, menghasilkan ilmu-ilmu yang bersifat observasional-eksperimental. Beberapa contoh dapat dikemukakan di sini, misalnya Allah SWT mengajarkan Qabil cara menguburkan mayat melalui perantaraan burung gagak (al-Maa’idah: 31).             Artinya: Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali dibumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. (Q.S. al-Maa’idah : 31). Mengajarkan seorang laki-laki saleh tentang pengertian kebangkitan melalui pengamatan eksperimental (al-Baqarah: 259). Menunjukkan kepada Ibrahim a.s. bagaimana menghidupkan kembali yang sudah mati melalui eksperimen (al-Baqarah:260). Pengetahuan juga dapat dicapai melalui akal, kalbu, fuad, dan dengan ini dapat ditangkap ayat-ayat Allah pada kejadian alam semesta (al-Baqarah: 264).             ••                              Artinya: Hai orang-orang briman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya) dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu di timpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersigh (tidak bertanah). Mereka tidakmenguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Q.S. al-Baqarah: 264). Dengan menggunakan mekanisme pada fuad ini, kadangkala manusia menghasilkan ilmu transendental-filosofis. Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban setiap manusia atas setiap penggunaan sam’a, bashar, dan fuad-nya (al-Isra’: 36). Al-Qur’an menunjukan empat sumber untuk memperoleh ilmu pengetahuan yaitu: a. Al-Qur’an dan sunnah sebagai sumber utama ilmu, keduanya harus digali maksud dan rujukan dalam menata kehidupan ini. b. Alam semesta adalah sumber mkedua ilmu yang harus dipelajari oleh seorang muslim. c. Diri manusia (anfus) adalah sumber ketiga ilmu pengetahuan. Ungkapan mimma khuliq (ath-Thaariq: 5) mengacu kepada fisiologi dan psikologi manusia sekaligus, karena dalam bahasa Arab kata khuliqa mempunyai masdar khuluq dan khalaq. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang disamping berkaitan dengan penciptaan manusia secara biologis (al-Mu’minun:12-14), juga berkaitan dengan perilaku manusia sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat (al-Anbiya’ 37). d. Tarikh atau sejarah kehidupan umat manusia merupakan sumber ilmu yang keempat (Yusuf: 111). Hakikat pencarian ilmu pengetahuan pada diri manusia sesungguhnya adalah dalam rangka mengenal Allah SWT dengan segala konsekuensinya (tauhidullah). Ini merupakan tujuan pertama dan utama. Disamping itu, secara rinci tujuan pencarian ilmu dapat dibagi atas: a. Manjahul hayah yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan peraturan hidup manusia; dan b. Wasaailul hayah, sarana kehidupan. Ada dua manfaat yang diperoleh manusia dari ilmu tentang alam semesta (sumber kedua ilmu) yaitu: a. Dengan ilmu tersebut manusia dapat menangkap isyarat keberadaan dan keagungan Allah b. Dengan ilmu tersebut manusia dapat dengan mudah memperoleh apa-apa yang menjadi kebutuhan hidupnya 1.2 Klasifikasi Ilmu Pengetahuan Ulama muslim, sejak abad pertama berkembangnya Islam, telah berusaha untuk menyusun suatu pengelompokan ilmu. Hal ini dilakuakan terutama ditengah suasana ramainya interaksi peradaban muslim dengan bangsa-bangsa lain, seperti Persia, Yunani, Romawi, Cina, dan lain-lain. Secara tersurat Al-Qur’an memang tidak memilah-milah ilmu untuk suatu metode tertentu. Namun, jika diteliti apa yang terkandung dibalik itu, kiranya akan didapat adanya semacam pembagian keilmuan. Oleh karena itulah, klasifikasi ilmu yang dipetik dari Al-Qur’an akan sangat bergantung kepada hasil ijtihad orang yang menyelidikinya. Sebagai langkah awal, sekaligus sebagai contoh adalah klasifikasi ilmu menurut Al-Ghazali (1058-1111). Bukan hal mustahil suatu saat ijtihad kita dapatmengantarkan kita kedalam klasifikasi yang lebih baik. Yang jelas, sisi syariat dan akhlak harus menjadi pertimbangan dalam melakukan klasifikasi ini. Sistem klasifikasi ilmu dari al-Ghazali dibangun atas beberapa kaidah dasar yang berkaitan dengan prinsip-prinsip isalam, seperti berikut: a. Peringkat kewajiban untuk menentukannya b. Sumber pengkajian c. Kemanfaatan bagi kehidupan manusia Tetapi, yang bahkan lebih dini dari semaca klasifikasi semacam ituadalah pembagian ilmu menjadi dua: a. Ilmu-ilmu fardu’ain (yang penuntutatnya menjadi kewajuban setiap muslim, tanpa kecuali, dan b. Ilmu-ilmu fardu kifayah (yang penuntutatnya merupakan kewajiban sebagai muslim, sesuai dengan bidang keahliannya). Semua ilmu yang perlu guna menghasilkan manusia-manusia universal, masuk kedalam kategori fardu’ain. Selebihnya, ilmu-ilmu yang perlu guna menciptakan sarana atau lingkungan yang kondusif bagi dihasilkannya manusia-manusia yang baik itu termasuk ke dalam kategori ilmu-ilmu fardu kifayah. Di antara ilmu-ilmu yang termasuk fardu’ain menurut Yusuf Qardhawi (Metode dan Etika Pengembangan Ilmu dalam Prespektif Sunnah) paling tidak ada empat macam yaitu sebagai berikut: a. Ilmu mengenai ‘aqidah yaqiniyyah yang benar, selamat dari syirik dan khurafat b. Ilmu yang membuat ibadah seseorang terhadap tuhannya berjalan denagan benar sesuai dengan ketentuan yang disyariatkan. Demikian secar lahiriah, adapun secara batiniah, memenuhi syarat niat dan ikhlas karena Allah. c. Ilmu yang dengannya jiwa dinersihkan, hati disucikan, segala fadilah dikenal untuk kemudian diamalkan, dikenal pula radzilah ‘kenistaan’ atau yang membinasakan untuk kemudian di tinggalkan dan dijaga. d. Ilmu yang bisa mendisiplinkan tingkah laku dalam hubungan seseorang dengan dirinya, atau dengan keluargannya, atau denagn khalayak banyak, baik itu penguas atau rakyat, muslim maupun nonmuslim. Dengan begitu, ia mengetahui hukum halal, haram, wajib-bukan wajib, pantas-tidak pantas, bermanfaat-tidak berfanfaat. Sedangkan, fardu kifayah adalah segala yang dibutuhkan oleh jamaah kaum Muslimin dalam masalah ad-Din maupun ad-Dunya. Mendalami ilmu-ilmu sara’ dan menguasai ilmu kaun seperti kedokteran, teknik, matematika, pertanian, ilmu falak, ilmu hayat, geologi, dan sebagainya. Singkatnya semua yang dibutuhkan oleh kaum Muslimin dalam rangka meningkatkan kekuatan dan kualitas hidupnya sehingga mampu berperan secara optimal sebagai khalifah Allah di muka bumi. 1.3 Laju Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dewasa Ini dan Implikasinya Dua ratus tahun belakangan ini laju perkembangan ilmu pengetahuan dapat dikatakan tercepat dan terdahsyat sepanjang sejarah peradaban manusia. Perkenbangan ini memiliki akar sejarah cukup panjang. Sejak Thales (700 tahun SM) melontarkan pikiran-pikiran sainsnya yang sistematik, ilmu pengetahuan berangkat secara perlahan tapi pasti, sampai abad pertengahan. Pada masa ini diletakkan dasar-dasar berbagai cabang ilmu pengetahuan, dari logika sampai gramatika, dari astronomi sampai fisika. Sampai abad ke-7 pengetahuan berkembang di Asia kecil, sebuah wilayah yang saat itu merupakan bagian dari Kerajaan Romawi-Yunani. Meski menyentuh berbagai pengetahuan fisika, karakteristik umum metode yang dikembangkan lebih banyak bersifat deduktif-spekulatif. Kaum ulama muslimin melanjutkan tradisi ilmiah peradaban Helenisme dengan pengembangan-pengembangan yang spektakuler menurut ukuran zamannya. Dalam semangat ini pengetahuan modern tumbuh. Siapa pun tidak bisa menyangkal bahwa penemuan-penemuan manusia berhasil menyingkap rahasia-rahasia alam, lebih banyak lagi dibanding sebelumnya. Kemajuan pengetahuan melahirkan juga teknologi. Sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya menjadi kenyataan yang dihadapai saat ini dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang elektronika, komputer, dan bioteknologi. Penemuan-penemuan yang cukup dahsyat dan mengagumkan terjadi. Ilmu dan teknologi ibarat sebuah pedang. Kearifan pemiliknya menunjukkan kearifan kebergunaan pedang tersebut bagi manusia. Kita menyaksikan ilmu dan teknologi pada saat ini umumnya dikuasai orang-orang nonmuslim, yang perilaku dan sikapnya sering menampakkan kebencian kepada umat dan ajaran islam. Karena itu, pedang pun dimainkan dan terjajahlah kaum muslimin, baik penjajahan politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Masalah sosial kemasyarakatan sebagai efek samping dari kehidupan teknologi, juga semakin keruh. Kemauan dalam komunikasi dan audiovisualisasi membuat tidak ada bagian dimuka bumi ini yang tidak tersentuh oleh peradaban Barat, yang sekuler, anti akhlakul-karimah, dan kadangkala disertai dengan kesadisan. Tidak sedikit warga muslim di negara berkembang bertingkah laku, lebih buruk lagi dari “rekan-rekan” mereka di Eropa atau Amerika. 1.4 Implikasi Kependidikan Pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an dalam hubunganya dengan pengembangn ilmu pengetahuan tersebutamat erat kaitanya dengan kegiatan pendidikan. Keterkaitan ini dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut. Pertama, sungguhpun tujuan dari pendidikan adalah merubah sikap mental dan prilaku tertentu yang dalam konteks Islam adalah agar menjadi seorang muslim yang terbna seluruh potensi dirunya sehingga dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah dalam rangka beribadah kepada Allah, namun dalam proses menuju kearah tersebut diperlukan adanya upaya pengajaran. Dengan kata lain pengajaran adalah salahsatu sarana untuk mencapai tujuan pendidikan. Kedua, bahwa dalam kegiatan oengajaran tersebut, seorang guru mau tidak mau harus mengajarkan ilmu pengetahuan,karena dalam ilmu pengetahuan itulah kan dijumpai berbagai informasi, teori, rumus, konsep-konsep dan sebagainya. Yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Ketiga, bahwa melalui pendidikan diharapkan pula lahir manusia yang kreatif, mampu berpikir sendiri, walaupun sesungguhnya lain dari yang lain, sanggup mengadakan penelitian, penemuan dan seterusnya. Keempat ,bahwa pelaksanaan pendidikan harus mempertimbangkan prinsip pengembangan ilmu pengetahuan sesuai dengan petunjuk al-qur’an. Yaitu pengembangan ilmu pengetahuan yang ditujukan bukan semata-mata untuk pengembangan ilmu pengeahuan itu sendiri, melainkanntuk membawa manusia semakin mampu manangkap hikmah di balk ilmu pengetahuan, yaitu rahasia keagungan Allah swt.dari keadaan yang demikian itu, maka ilmu pengetahuan tersebut akan memperkokoh akidah, meningkatkan ibadah dan akhlak yang mulia. Kelima, pengajaran berbagai ilmu pengetahuan dalam proses pendidikan yang sesuai dengan ajaran al-Qur’an, akan menjauhkan manusia dari sikap takabur, sekuler, ateistik, sbagaimana pada umumnya dijumpai pada pengembangan ilmu pengetahuan di masyarakat Barat dan Eropa. Keenam, pendidikan harus mampu mendorong anak didik agar mencintai ilmu pengetahuan, yang terlihat dari terciptanya semangat dan etos keilmuan yang tinggi; memelihara, menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya; besedia mengajarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya itu untuk kepentingan dirinya, agama, bangsa dan Negara. B. AL-QUR’AN DAN ILMU PENGETAHUAN 1.1 Pengertian Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan adalah terjemahan dari kata bahasa inggris, science, yang berarti ilmu pengetahuan. Kata science itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, scientia, yang berarti pengetahuan. Namun pengertian yang umum dipergunakan, ilmu pengetahuan adalah himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui proses pengkajian dan dapat diterima oleh rasio. Ada yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan adalah gambaran atau keterangan yang lengkap dan konsisten tentang fakta-fakta pengalaman manusia yang disusun dengan metode-metode tertentu, dan mempergunakan istilah-istilah yang disederhanakan. Selain itu, adapula yang mengatakan, ilmu pengetahuan adalah ilmu yang bersifat empiris, rasional, umum, dan merupakan satu kesatuan. Jika definisi-definisi diatas dihubungkan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan adalah fakta-fakta pengalaman manusia yang disusun secara seksama dan sistematis sehingga ia merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling berkaitan. Ilmu pengetahuan berbeda dengan pengetahuan. Pengetahuan adalah apa saja yang diketahui oleh manusia mulai darim urusan yang sekecil-kecilnya sampai dengan yang sebesar-besarnya. Sedangkan ilmu pengetahuan adalh pengetahuan yang sudah disusun secara sistematis dan memiliki sifat-sifat yang sebagaimana disebutkan diatas. Sebagai ilmu pengetahuan kealaman atau sains ia memiliki ciri-ciri tertentu, diantaranya ia disusun atas dasar intizhar pada gejala-gajala alamiah yang dapat kita periksa berulang-ulang dan dapat diperiksa orang lain. Apabila gejala-gejala yang diteliti serupa, biasanya dapat ditarik kesimpulan yang umum mengenai fenomena-fenomena alamiah itu. Kesimpulan yang menyatakan sifat dan kelakuan alam pada kondisi tertentu itu dinamakan hukum alam. Hukum alam melukiskan bagaimakah sebenarnya alam bertingkahlaku pada kondisi tertentu. Ciri khas nyata dari pengetahuan (science) yang tidak dapat diingkari- meskipun oleh para ilmuwan – adalah bahwa ia tidak mengenal kata “kekal”. Apa yang dianggap salah di masa silam misalnya, dapat diakui kebenarannya di abad modern. Dari sini jelaslah bahwa ilmu pengetahuan hanya melihat dan memiliki; bukan menetapkan. Ia melukiskan fakta-fakta, objek-objek dan fenomena-fenomena yang dilihat dengan mata seseorang ilmuawan yang mempunyai sifat pelupa, kelirum dan tidak mengetahui. Karenanya, jelas pulalah bahwa apa yang dikatakan orang sebagai sesuatu yang benar (kebenaran ilmiah) sebenarnya hanya merupakan satu hal yang relative dan mengandung arti yang sangat terbatas. 1.2 Kolerasi antara Pernyataan-pernyataan Ilmiah Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Sebagaiman telah disebutkan, salah satu sifat ilmu pengetahuan adalah dapat diterima oleh rasio atau akal. Al-Qur’an memberikan penghargaan yang amat tinggi terhadap akal. Dengan penggunaan akal dan pikiran tersebut ilmu pengetahuan dapat diperoleh dan dikembangkan. Disamping itu, Al-Qur’an juga sangat mendorong manusia agar menuntut ilmu. Kata-kata atau pernyataan yang dipakai dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan perbuatan berfikir, bukan hanya kata ‘aqala, tetapi juga kata-kata sebagai berikut: a. Nazara, yaitu melihat secara abstrak, dalam arti, berfikir dan merenung. Kata ini terdapat dalam 30 ayat lebih, diantaranya:                       “Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan ? Dan langit bagaimana ia ditinggikan ? Dan gunung bagaimana ia ditegakkan ? dan bumi bagaimana ia dibentangkan ?” (Q.S. al-Ghasyiyah, 88:17-20). Perintah untuk intizhar terhadap alam semesta, baik makhluk hidup maupun tak bernyawa, seperti tercantum dalam ayat di atas, dan jaminan bahwa hukum-hukum yang mengendalikan alam semesta ini tidak berubah, mengandung janji bahwa apabila kita mematuhi perintah Allah untuk berintizhar, kita akan menemukan sebagian dari hukum-hukum yang ditetapkannya itu. Kata intizhar (nazara) dapat berarti mengumpulkan pengetahuan melalui pengamatan atau observasi dan pengukuran atau pengumpulan data pada alam sekitar kita, baik yang hidup maupun yang tak bernyawa. b. Tadabbara yaitu menggunakan sesuatu yang tersurat dan tersirat. Kata ini banyak dijumpai di dalam Al-Qur’an, diantaranya:         “Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati telah terkunci”. (Q.S. Muhammad, 47:24). Dengan melakukan tadabbara sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas, manusia akan diantarkan kepada suatu fakta bahwa al-Qur’an menambahkan dimensi baru terhadap studi mengenai yang tersurat seperti ayat-ayat Al-Qur’an dan tanda-tanda yang terdapat dalam alam (ayat kauniyah), dan membantu pikirn manusia melakukan terobosan terhadap batas penghalang dari alam materi. Al-Qur’an menunjukkan bahwa materi bukanlah sesuatu yang kotor dan tanpa nilai, tapi didalamnya terdapat tanda-tanda yang membimbing manusia menuju Allah dan menunjukkan keagngan-Nya. Alam semesta adalah ciptaan Allah. Al-Qur’an mengajak manusia untuk menyelidiki, dan mengungkap keajaiban alam serta berusaha memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah ruah untuk kesejahteraan hidup. Dengan ilmu pengetahuan, manusia dapat mencapai Yang Maha Pencipta melalui observasi yang teliti dan tepat terhadap hukum-hukum yang mengatur gejala alam, dan al-Qur’an menunjukkan kepada Realitas Intelektual Yang Maha Besar, yaitu Allh SWT, lewat ciptaan-Nya. c. Tafakkara, yaitu berfikir secara mendalam. Hal ini ada di dalam 16 ayat. Misalnya ayat yang berbunyi:   •         •       “ Ia buat segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi tunduk padamu, semuanya adalah dari-Nya, padanya sungguh terdapat taanda-tanda bagi kaum yang mau berfikir”. (Q.S. al-jatsiyah, 45:13). d. Faqiha, yaitu mengerti secara mendalam. Hal ini dijumpai dalam 16 ayat, diantaranya:                          “Tidak semestinya orang-orang mukmin semuanya pergi (berperang). Mengapa sebagian dari tiap golongan tidak pergi memperdalam pemahaman tentang agama agar dapat memberi peringatan bagi kaumnya, bila mereka kembali. Semoga mereka berjaga-jaga”. (Q.S.al-Taubah, 9:122). Ayat-ayat tersebut mendorong para ulama di zaman klasik untuk mempelajari ilmu pengetahuan dari berbagai sumber. Ketika khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809M) menarik orang-orang pandai dan ahli bahasa dari segala bangsa ke istananya di Baghdad. Dari aktivitas keilmuan dan prinsip tauhid yang di pegang ini lahirlah ilmuwan-ilmuwan kaliber dan eksiklopedik yang menguasai puluhan cabang ilmu pengetahuan. Mereka, di samping ahli ilmu agama, juga ahli ilmu pengetahuan alam. Semua ini terwujud tidak lepas dari dorongan al-Qur’an untuk bertafakkur. e. Tazakkara , berarti mengingat, memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperhatikan, dan mempelajari, yang semuanya mengandung perbuatan berfikir dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan.          “Apakah yang menciptakan sama dengan yang tidak menciptakan ? Apakah tidak kamu perhatikan ?” (Q.S. al-Nahl, 16;17). f. Fahima, yaitu memahami dalam bentuk pemahaman yang mendalam. Hal ini terlihat dalam ayat yang berbunyi:            •                   •   “Dan Daud serta Sulaiman sewaktu menetukan keputusan tentang ladang, ketika domba orang masuk ke dalamnya pada malam hari, dan kami menjadi saksi atas keputusan itu. Kami buat Sulaiman memahaminya dan kepada keduanya Kami berikan nikmat dan ilmu. Kami jadikan bersama Daud gunung dan burung tunduk memuja Kami. Kamilah Pembuat semua itu”. (Q.S. al-Anbiya, 21:78-79). g. ‘Aqala menggunakan akal atau rasio. Pemakaian akal yang merupakan bagian integral dari pengembangan ilmu pengetahuan. Misalnya ayat berbunyi :  •           “seburuk-buruk binatang pada pandangan Allah adalah yang tuli, bisu, dan tidak mempergunakan akal. (Q.S. al-Anfal, 8:22). Dengan memperhatikan ayat-ayat diatas, nampak jelas bahwa al-Qur’an banyak berisi perintah yang menyuruh manusia memperhatikan alam (kosmos). Alam penuh dengan tanda-tanda yang harus diperhatikan, diteliti, dan difikirkan manusia agar mereka mengetahui rahasia yang terkandung di balik tanda-tanda itu. Pemikiran mendalam mengenai tanda-tanda tersebut membawa kepada pemahaman tentang fenomena-fenomena alam itu sendiri. 1.3 Khalifah Yang Bertanggung Jawab Sebagai makhluk yang diciptakan Allah SWT untuk mengembangkan diri kepada-Nya (ayat 56 surah Adz Dzaariyaat), manusia memerlukan pangan untuk hidup, sandang untuk melindungi diri dari suhu alam di sekitarnya dan papan demi keselamatannya dari gangguan makhluk lain di tempat itu.Usaha-usaha untuk memperoleh pangan, sandang dan papan itu dapat kita maklumi, dan untuk itu manusia diberi akal dan di tunjuk Allah SWT sebagai khalifah di bumi sebagaimana tercantum di antaranya dalam ayat 165 surat Al An’am:                “Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian dari kamu atas sebagian yang lain beberapa tingkat, untuk mengujimu atas apa yang telah diberikan-Nya kepadamu”. Sehubungan dengan peranannya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi itu, manusia diperintahkan untuk mencari kebahagiaan sebagaimana tersurat dalam ayat 77 surah Al Qhashash:                          •     “Dan raihlah kebahagiaan akhirat dan apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dan janganlah melupakan bagianmu (atau mengabaikan nasibmu) di duniaa; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai mereka yang berbuat kerusakan”. Ia diarahkan untuk mencari kebahagiaan akhirat tanpa mengabaikan nasibnya di dunia. Sehubungan dengan perintah ini sebaiknya kita ingat sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa menginginkan (kebahagiaan ) dunia, maka ia harus memiliki ilmunya; barangsiapa menghendaki (kebahagiaan) akhirat, ia harus memiliki ilmunya dan siapapun yang ingin meraih keduannya, maka ia harus memiliki ilmunya. (ilmu keduniaan dan ilmu akhirat)”. Petunjuk ini membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa sebagai hamba Allah yang diciptakan untuk hidup di bumi, manusia harus menguasai ilmu keakhiratan dan ilmu keduniaan yang diperlukan. 1.4 Bimbingan Allah SWT Melalui Al Qur’an Sehubungan dengan keharusan manusia untuk mengenal alam sekelilingnya dengan baik, maka Allah SWT memerintahkan dalam ayat 101 surah yunus:        “Katakanlah (wahai Muhammad) : Periksalah dengan “nazhor” apa-apa yang ada di langit dan di bumi”. Hal ini akan tampak lebih jelas lagi jika kita ikuti teguran-teguran Allah SWT dalam ayat 17-20 Al Ghaasyiyah. Dari ayat terakhir ini nyatalah bahwa allah SWT memberikan bimbingan-Nya lebih lanjut di dalam Al-Qur’an, dengan memberikan contoh apa saja yang dapat diamati dan untuk tujuan apa pengamatan itu dilakukan, agar manusia dapat mengenal baik lingkungannya itu. Dan ini pulalah yang dilakukan orang dalam fisika, atau pengembangan sains pada umumnya yaitu melakukan observasi dengan penuh perhatian agar dapat menjawab pertanyaan “bagaimana” gejala-gejala yang disebutkan itu berlangsung. Setelah observasi dengan teliti, apa saja yang harus diperhatikan agar orang dapat menjawab pertanyaan. Di dalam Al-Qur’an sendiri petunjuk itu dengan jelas dinyatakan dalam ayat 49 surah Al Qamar:  •     “sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran”. Selanjutnya ditekankan di dalam ayat-ayat 11 dan 12 surah An Nahl pentingnya peranan pikiran kritis dan penalaran yang rasional ini bagi pengungkapan kelakuan alam semesta:    • • •    •  •          •               “Dia menumbuhkan bagimu, dengan air hujan itu, tanam-tanaman, zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat ayatullah bagi mereka yang mau berpikir. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang itu di tundukkan (bagimu) dengan perintah-nya, sebenarnya pada yang demikian itu terdapat ayatullah bagi kaum yang menalar”. Alam semesta dan proses-proses di dalamnya yang pada kedua ayat tersebut di atas dikatakan sebagai ayatullah itu “dibaca” oleh para pakar fisiska dan kelakuan alam yang mereka temukan sebagai kesimpulan umum yang mereka namakan “hukum alam”. Bagi ilmuwan Muslim hukum alam itu tidak lain adalah segala aturan Allah SWT sunnatullah yang diberlakukan pada alam semesta. Bahwa seluruh jagad raya berjanji untuk menaatinya dapat kita baca dalam ayat 11 surah Fushshilat:           •       “Dalam pada itu Dia mengarah kepada langit yang penuh “embunan”, lalu Dia berkata kepada langit dan kepada bumi : silahkan kalian mengikuti (perintah-ku) dengan suka hati atau dengan terpaksa; mereka menjawab: kami ikut dengan taat”. Sebagai contoh dari pada ketaatan alamm itu dapat di kemukakan apa yang terkandung di dalam ayat 74 surah al Baqarah yang menyatakan:  •        •        •        “Padahal di antara batuan-batuan itu ada sungai-sungai yang mengalir daripadanya, dan diantaranya sungguh ada yang terbelah sehingga mata air keluar daripadanya, dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut (dan hormat) kepada Allah”. Mereka tidak dapat berbuat lain kecuali mengikuti sunnatullah. Dan dalam kasus terakhir, peraturan itu adalah hukum gravitasi yang menyebabkan semua benda di bumi memiliki berat, yang memaksa air mengalir ke laut, dan bulan mengelilingi bumi dan sebagainya. C. ILMU DAN TEKNOLOGI Pandangan Al-Qur’an tentang ilmu dan teknologi dapat di ketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW.                          Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mwngajar manusia dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5). Selanjutnya dari wahyu pertama Al-Qur’an diperoleh isyarat bahwa ada dua cara perolehan dan pengembangan ilmu, yaitu Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui oleh manusia lain sebelumnya, dan mengajar manusia (tanpa pena) yang belum di ketahuinya. Cara pertama adalah mengajar dengan alat atau atas dasar usaha manusia. Cara kedua dengan mengajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Walaupun berbeda, keduanya berasal dari satu sumber, yaitu Allah Swt. Menurut pandangan Al-Qur’an seperti diisyaratkan oleh wahyu pertama ilmu terdiri dari dua macam. Pertama, ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia, dinamai ‘ilmu ladunni, seperti diinformasikan antara lain oleh Al-Qur’an surat Al-Kahfi (18): 65.              Lalu mereka (Musa dan muridnya) bertemu dengan seorang hamba dan hamba-hamba Kami, yang telah Kami anugrahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, yaitu dinamai ‘ilm kasbi. Ayat-ayat ‘ilm Kasbi lebih banyak dari pada yang berbicara tentang ‘ilm ladunni. Pembagian ini disebabkan karena dalam Al-Qur’an terdapat hal-hal yang “ada” tetapi tidak dapat diketahui melalui upaya manusia sendiri. Ada wujud yang tidak tampak, sebagaimana ditegaskan berkali-kali oleeh Al-Qur’an, antara lain dalam firman-Nya:          Aku bersumpah dengan yang kamu lihat dan yang kamu tidak lihat. (QS. Al-Haqqah [69]: 38-39). 1.1 Objek Ilmu dan Cara Memperolehnya Sacara garis besar objek ilmu dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu alam materi dan alam non materi. Sains muktahir yang mengarahkan pandangan kepada alam materi, menyebabkan manusia membatasi ilmunya pada bidang tersebut. Bahkan sebagian mereka tidak mengakui adanya realitas yang tidak dapat dibuktikan di alam materi. Karena itu, objek ilmu menurut mereka hanya mencakup sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas, dan pengalihan antar budaya. Objek ilmu menurut ilmuwan Muslim mencakup alam materi dan nonmateri. Karena itu, sebagian ilmuwan muslim khususnya kaum sufi melalui ayat-ayat Al-Qur’an memeperkenelkan ilmu yang mereka sebut al-hadarat Al-Ilahiyah al-Khams (lima kehadiran Ilahi) untuk menggambarkan hierarki keseluruhan realitas wujud. Kelima hal tersebut adalah: (1) alam nasut (alam materi), (2) alam malakut (alam kejiwaan), (3) alam jabarut (alam ruh), (4) alam lahut (sifat-sifat Ilahiyah), (5) alam hahut (wujud zat Ilahi). Tentu ada tata cara dan sarana yang harus digunakan untuk meraih pengetahuan tentang kelima hal tersebut.     •             Allah mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk memeperoleh pengetahuan). (QS Al-Nahl [16]: 78). Ayat ini mengisyaratkan penggunaan empat sarana yaitu pendengaran, mata (penglihatan) dan akal, serta hati. 1.2 Pengembangan dan Penerapan Sains Unsur pertama dalam kegiatan fisika yang penting adalah observasi atau pengamatan terhadap bagian alam yang ingin kita ketahui sifat dan kelakuannya pada kondisi tertentu. Setelah pengamatan, unsur penting yang kedua di dalam pengembangan fisika adalah pengukuran. Unsur penting yang ketiga, dalam pengambangan fisika, adalah analisis terhadap data yang terkumpul dari berbagai pengukuran atas besaran-besaran fisis yang terlibat yang dilakukan melalui proses pemikiran yang kritis, yang kemudian dilanjutkan dengan evaluasi hasil-hasilnya dengan penalaran yang sehat untuk mencapai kesimpulan yang rasional. Jika kita mengetahui fisika, atau sains pada umumnya, kita akan mengetahui bagaimana alam bertingkah laku pada kondisi tertentu , kita akan dapat meramalkan bagaimana alam akan meramalkan bagaimana alam akan memberikan reaksi atau respon terhadap tindakan yang kita lakukan terhadapnya. Sudah barang tentu tingkah laku alam raya ini dikendalikan oleh sunnatullah yang mengatur bagaimana alam harus berkelakuan pada kondisi tersebut, karena ia tidak dapat berbuat lain. Misalnya apa yang terdapat pada ayat 13 surah al jaatsiyah:   •         •       “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat ayatullah atau tanda-tanda kekuasaan allah bagi kaum yang berpikir”. Ayat ini menyatakan bahwa seluruh isi langit dan bumi akan ditundukkan al Khaliq bagi umat manusia dengan keteknikan, yang merupakan penerapan sains, yang akan diberikan kepada mereka yang mau melibatkan akalnya dan menggunakan pikirannya. 1.3 Teknologi Bagi Pembangunan Kata-kata “Allah menundukkan” dan lain-lainnya yang semakna dengan itu, banyak ditemukan dalam Al Qur’an untuk menegaskan kepada manusia bahwa Allah Robbul ‘Alamin menundukkan segala ciptaan-Nya dengan peraturan-peraturn-Nya, sehingga orang dapat mengambil faedahnya sepanjang ia bertindak sesuai dengan peraturan itu. Seharusnya orang tidak menyombongkan diri dan merasa dapat menguasai dan menundukkan alam dengan teknologinya, karena Allah jualah yang menundukkannya. Apa yang ia telah lakukan hanyalah mengembangkan sains melalui prosedur yang sesuai dengan petunjuk-petunjuk Illahi dalam Al-Qur’an. Untuk melaksanakan tugas sebagai khalifah di bumi, kita harus memiliki teknologi bagi pemanfaatan alam yang berada di sekeliling kita dan pelestariannya, dari generasi ke generasi, kecukupan pangan, sandang serta papan, dan kesehatan serta pendidikan yang memadai. Karena itulah Rasulullah saw memerintahkan kepada setiap pribadi Muslim dan Muslimah untuk mencapai ilmu, kapan saja sejak masih dalam buaian sampai masuk ke liang kubur, dan di mana saja sekalipun di negeri Cina. Segala ilmu yang diperlukan manusia itu tersedia di dalam Al-Qur’an. Sebagai Hudan lin Nas, kitab suci itu berisi petunjuk-petunjuk bagi manusia untuk dapat hidup bahagia dunia dan akhirat, meskipun secara garis besar saja, yang rinciannya dapat ditemukan pada sunnah Rasul bagi ilmu keakhiratan dan dalam alam semesta bagi ilmu keduniaan. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari pemaparan materi di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwasanya kerangka ilmu pengetahuan sudah diterangkan dalam Al-Qur’an secara jelas. Bahwasanya mulai dari zaman Nabi Adam sudah terdapat penjelasan ilmu bagaimana cara menguburkan mayat, separti yang telah di contohkan yaitu seperti cerita Qabil yang menguburkan mayat saudaranya dengan menyontoh bagaimana seekor burung gagak yang menggali-gali tanah, itu merupakan salah satu dari sekian banyak contoh ilmu pengetahuan yang di jelaskan didalam Al-Qur’an, dan masih banyak lagi ilmu-ilmu yang terdapat didalam Al-Qur’an seperti, astronomi, geologi, kedokteran dan lain-lain. Dengan kerangka ilmu yang telah di jelaskan di dalam Al-Qur’an, ilmu tersebut mengalami perkembangan dari zaman ke zaman yang di mana setiap perubahan zaman tersebut ilmu berkembang menjadi lebih canggih dari zaman yang sebelumnya. Yang dimana ilmu-ilmu tersebut menarik para ilmuan untuk diteliti lebih lanjut, sehingga muncul ilmuan-ilmuan yang hebat yang membawa kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. B. Saran Akhir kata, kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kesalahan di dalam pembuatan makalah ini baik dari segi bahasa tulisan, maupun kalimat yang kurang tepat dalam makalah kami, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dan sangat di harapkan demi kesempurnaan makalah berikutnya. DAFTAR PUSTAKA Baiquni, Achmad. 1997. Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman. Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa. Hafidhuddin Didin. 1998. Dakwah Aktual. Jakarta: Gema Insani Press. Nata, Abuddin. 2000. Al-Qur’an Dan Hadits. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Nata, Abuddin.2010. Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur’an.Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Shihab, Quraish. 1992. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Penerbit Mizan. Shihab, Quraish. 1996. Wawasan Al-Qur’an. Jakarta: Penerbit Mizan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar