kursor

Minggu, 16 Februari 2014

MASUKNYA ISLAM DI SUMATERA


MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

Banyak teori yang memperkirakan masuknya islam di Indonesia, dari sekian pendapat, maka banyak menetapkan islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7, di bawa oleh saudagar-saudagar Iskam yang juga bertugas sebagai da’i dan di bawa langsung dari tanah Arab.
Seminar masuknya islam ke indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963 sebagai berikut :
a.       Bahwa menurur sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya masuk ke indonesia pada abad pertama Hijriah (abad ke 7/8 Masehi), dan langsung dari Arab.
b.      Bahwa daerah yang pertama didatangi oleh islam ialah Pesisisr Sumatra, dan bahwa setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka Raja Islam yang pertama di Aceh.
c.       Bahwa dalam proses pengislaman selanjutnya orang Indonesia ikut aktif mengambil bagian.
d.      Bahwa Mubaligh-Mubaligh Islam yang mula-mula itu selain sebagian penyiar agama juga sebagai saudagar.
e.       Bahwa penyiaran Islam di Indonesia itu di lakukan dengan  cara damai.
f.       Bahwa kedatangan Islam ke Indonesia itu membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.
Jika ditarik benang merahnya, terdapat beberapa saluran dalam proses masuknya
Islam ke Indonesia, di antaranya sebagai berikut.

a.       Jalur Darat; Para pedagang Islam melintasi jazirah Arab dan menjelajah daerah Barat  ke Gurun Sahara dan Afrika Tengah, sedangkan jalan Timur melalui Bashra, Bagdad, Damaskus, Samarkand, Bukhara, dan kota-kota di Asia Tengah terus ke daratan Cina. Jalur ini disebut jalan sutra karena pada saat itu yang menjadi komoditas utama dalam kegiatan perdagangan adalah berupa sutra, terutama yang berasal dari Cina.

b.      Jalur Laut; Perdagangan yang dilakukan melalui jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara yang dilakukan melalui jalur laut berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Pada saat itu sudah berkembang pelabuhan-pelabuhan laut yang ada di kawasan Asia seperti Muskat di jazirah Arab, Basra di Teluk Parsi, Cambay (Gujarat), Chittagong di Teluk Benggala, Pasai di Pulau Sumatra dan daerah Malaka yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran islamisasi yang berkembang ada enam[1], yaitu:
1.      Saluran perdangan
2.      Saluran perkawinan
3.      Saluran tasawuf
4.      Saluran pendidikan
5.      Saluran kesenian
6.      Saluran politik






A.  PERKEMABANGAN ISLAM DI SUMATERA
Daerah pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah Sumatra bagian Utara seperti Pasai dan Perlak. Para pedagang dari India yakni bangsa Arab, Persi,dan Gujarat yang juga mubalig Islam banyak yang menetap dibandar-bandar sepanjangSumut. Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah diIslamkan, sehingga terbentuklah keluarga-keluarga Muslim.Para mubalig Islam pada waktu itu, tidak hanya bedakwah kepada para penduduk  biasa tetapi juga kepada raja-raja kecil hingga akhirnya berdiri kerajaan Islam pertamayaitu Samudra Pasai.
Sumatera mengawali jejak perjalanan Islam di nusantara. Di bagian utara pulau ini pernah berdiri Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Kerajaan yang berdiri di tanah Aceh itu bahkan pernah dikunjungi Ibnu Batutah, pengembara muslim paling ternama sepanjang sejarah.
Kekayaan khazanah Islam Sumatera lalu dilanjutkan dengan berdirinya kerajaan Malaka (1402 – 1511) yang didirikan oleh Parameswara, seorang putera Sriwijaya yang menyelamatkan diri dari perebutan Palembang oleh Majapahit. Nama Malaka kemudian masyhur sebagai salah satu pelabuhan penting di dunia. Portugis, Belanda dan Inggris pun merapat di sana.
Masih di bagian Utara Sumatera berdiri Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1360 dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh). Sultan Ali Mughayat Syah dinobatan sebagai Sultan pertama pada Ahad, 1 Jumadil Awwal 913 H bertepatan pada 8 September 1507. Selain masyhur dengan sistem pendidikan militer yang baik, komitmennya dalam menentang imperialisme Eropa, sistem pemerintahan teratur dan sistematik, kesultanan Aceh merupakan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan terutama Islam.[2]

B. KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI SUMATERA
a.       Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Seumawe (sekarang pantai timur Aceh), berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Kerajaan ini menjadi pusat penyebaran agama Islam di sekitar Sumatera dan Malaka. Kerajaan Samudera Pasai yang mendapat julukan “Daerah Serambi Mekkah“ini merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Pendiri sekaligus raja pertama kerajaan ini adalah Sultan Malik Al-Saleh (1290-1297).
Kemunculannya sebagai kerajaan islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslimsejak abad ke-7, ke-8 Masehi, dan seterusnya.[3] Dari segi peta politik, munculnya kerajaan Samudera Pasai abad ke-13 M itu sejalan dengan suramnya peranan maritim kerajaan Sriwijaya, yang sebelumnya memegang peranan penting di kawasan Sumatera dan sekelilingnya.[4]
Terdapat petunjuk bahwa tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudra Pasai adalah Muara Sungai Peusangan, sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai yang memudahkan perahu-perahu dan kapal-kapal mengayuhkan dayungnya ke pedalaman dan sebaliknya. Ada dua kota yang terletak bersebrangan di muara sungai Peusangan itu, Pasai dan Samudera. Kota Samudra terletak agak lebih ke pedalaman, sedangkan kota Pasai terletak lebih kemuara.
Pendapat bahwa Islam sudah berkembang disana sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn Batutah, seorang pengembara terkenal asal Marokko, yang pada pertengahan abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 M) mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalanannya dari Delhi ke Cina. Ibnu Batutah menyatakan bahwa islam sudah hampir satu abad lamanya di siarkan disana. Ia meriwayatkan kesalehan, kerendahan hati, dan semangat ke agamaan rajanya yang seperti rakyatnya, mengikuti mazhab Syafi’i. Berdasarkan beritanya pula, kerajaan Samudra Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi masalah keagamaan dan keduniaan.
Keterangan Ibnu Batutah tersebut dapat di tarik kesimpulan, bahwa sistem pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut :
1.      Materi pendidikan dan pengajaran agama di bidang syariat Fiqh mazhab Syafi’i
2.      Sistem pendidikan secara non-formal berupa majlis taklim dan halaqah
3.      Pejabat pemerintahan merangkap sebagai tokoh ulama
4.      Baiya pendidikan bersumber dari negara [5]
Di antara pejabat pemerintahan yang merupakan ulama yang alim antara lain:
1.      Sri Kaya Ghisayuddin, sebagai Perdana Menteri
2.      Sayid Ali al-Makrany, sebagai Syakh al-Islam
3.      Bawa Kayu Ali Hisamuddin al-Malabary, sebagai Menteri Luar Negeri
Samudera Pasai berada di puncak kejayaannya ketika masa pemerintahan Sultan Ahmad Bahian Syah Malik Zahir pada tahun 727-750 H/1326-1345 M.
Sejarah mencatat, bahwa kerajaan Samudra Pasai ini pernah mengalami kemajuan dalam seluruh bidang kehidupan, yakni kemajuan dalam bidang perekonomian yang berbasis pada perdagangan dan pelayaran yang memperoleh keuntungan dan pajak yang besar, yakni sebesar 6% dari total barang yang di jual. Hal ini terjadi, karena Samudra Pasai dilihat dari segi geografis dan sosial ekonomi, memeng merupakan suatu daerah yang penting sebagai penghubung antara pusat-pusat perdangan yang terdapat di kepulauan Indonesia, Cina dan Arab.
Kemajuan dalam bidang perekonomian dan perdagangan ini di perkuat dengan adanya mata uang dirham dari Samudra Pasai, adanya mata uang itu membuktikan bahwa kerajaan ini pada saat itu merupakan kerajaan yang makmur. Mata uang dirham dari Samudra Pasai tersebut pernah di teliti oleh H.K.J. Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti sejarah Raja-raja Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama Sultan Alauddin, Sultan Manshur Malik Al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah. Pada tahun 1973 , di temukan lagi 11 mata uang dirham yang di antaranya bertuliskan nama Sultan uhammmad MalikAl-Zahir, Sultan Ahmad, Sultan Abdullah yang semuanya adalah raja-raja Samudra Pasai pada abad ke -14 dan 15 M.
Atas dasar mata uang emas yang di temukan itu, maka nama-nama raja Samudra Pasai dan urutannya dapat di ketahui dengan jelas, adalah sebagai berikut:
1.      Sultan Malik Al-Saleh yang memerintah sampai tahun 1207 M
2.      Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326 M )
3.      Mahmud Malik Al-Zahir (1326-1345 M )
4.      Manshur Malik Al-Zahir ( 1345-1346 M )
5.      Ahmad Malik Al-Zahir (1346-1383 M )
6.      Zain Al-Abidin Malik Al-Zahir (1383-1405 M )
7.      Nahrasiyah (1402-? )
8.      Abu Zaid Malik Al-Zahir ( ?-1455 M )
9.      Mahmud Malik Al-Zahir ( 1455-1477  M  )
10.  Zain Al-Abidin (1477-1500 M )
11.  Abdullah Malik Al-Zahir (1501-1513 M )
12.  Zain Al-Abidin (1513-1524 M )[6] 
Kerajaan Samudra Pasai ini berlangsung sampai dengan tahun 1524 M. Karena pada tahun 1521 M, kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun, dan pada tahun 1524 M, kerajaan tersebut dianeksasi oleh raja Aceh, Ali Mughayatsyah. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai ini berada di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Banda Aceh Darussalam .[7]
b.      Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh Darussalam didirikan di atas puing-puing kerajaan Lamuri pada abad ke-15 M. Oleh Mudzaffar Syah ( 1465-1497 M ). Sebuah sumber lain menyebutkan, bahwa kerajaan Aceh Darussalam merupakan penyatuan dari dua karajaan kecil, yaitu Lamuri dan Aceh Dar al-Kamal dengan rajanya yang pertama Ali Mughayatsyah.
Pertumbuhan kerajaan Aceh disebabkan kemajuan perdaganganpada permulaan abad ke-15 M. Jalan dagang yang sebelumnya dari laut Jawa ke utara melalaui selat karimata terus ke Makala, pindah melalui Selat Sunda dan menyusur pantai Barat Sumatra, terus ke Aceh. Dengan demikian, Aceh menjadi ramai dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri.
Ali mughayatssyah meluaskan wilayah kekuasaannya ke daerah Pidie yang bekerjasama dengan Portugis, kemudian ke Pasai pada tahun 1524 M. Dengan kemenangannya terhadap dua kerajaan trsebut, Aceh dengan mudah melebarkan sayap kekuasaannya ke Sumatera Timur. Untuk mengatur daerah Sumatera Timur, raja Aceh mengirim panglima-panglimanya, salah seorang diantaranya adalah Gocah, pahlawan yang menurunkan sultan-sultan Deli dan Serdang.[8]
Peletak dasar kebesaran kerajaan Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah yang bergelar Al-Qahar. Dalam menghadapi bala tentara Portugis ia menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan Usmani di Turki dan negara-negara Islam yang lain di Indonesia.
Puncak kebesaran Aceh terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda ( 1608-1637 ). Pada masanya Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir Timur dan Barat Sumatera. Dari Aceh, Tanah Gayo yang berbatasan diislamkan, juga Minangkabau. Hanya orang-orang kafir Batak yang berusaha menangkis kekuatan-kekuatan Islam yang datang, bahkan mereka melangkah begitu jauh sampai minta bantuan Portugis.[9] Untuk mengalahkan Portugis, Sultan kemudian bekerjasama dengan musuh Portugis, yaitu Belanda dan Inggris.
Kepopuleran Iskandar Muda dapat di lihat dari nama-nama yang dipakai yaitu Dharma Wangsa, Perkasa Alam, Johan Berdaulat, sedangkan sesudah wafat disebut Marhum Mahkota Alam.[10] Pada zaman kebesaran Aceh terkenal empat ulama besar, yaitu Hamzah Fansuri, Symsuddin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan Abd. Rauf Singkel.
Setelah Iskandar Muda wafat digantikan oleh Sultan Iskandar Thani. Tata pemerintahan Aceh diatur dalam undang-undang yang disebut Adat Mahkota Alam. Berdasarkan tata pemerintahan tersebut, wilayah Acehdibagi dalam wilayah sagi dan wilayah pusat kerajaan. Setiap sagi terdiri dari sejumlah mukmin dan dikepalai oleh panglima sagi yang disebut hulubalang besar.

Masyarakat Aceh dikelompokkan dalam golongan Teuku, yakni golongan masyarakat bangsawan, dan golongan Tengku, yakni golongan agama. Penghasilan Kerajaan Aceh didapat dari penarikan pajak dan cukai yang terdiri dari beberapa macam antara lain pajak pasar dan cukai intan. Dalam bidang sastra, Aceh banyak melahirkan tokoh-tokoh, antara lain Syamsuddin Pasai, Hamzah Fansyuri, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdul al-Rauf. Nuruddin ar-Raniri mengarang Bustanus Salatin (taman raja-raja dan adat istiadat Aceh serta ajaran Islam). Abdul al-Rauf dari Singkel (Syeikh Kuala) membuat tafsir Alquran dalam bahasa Melayu. Ia menentang aliran heterodoks (makhluk yang diciptakan sebagai
penampilan dari penciptanya). Aliran yang dianutnya adalah aliran ortodoks, yakni Allah pencipta dan makhluk ciptaan-Nya tidak dapat mengetahui keadaan-Nya.

Pada masanya, Aceh terus berkembang untuk masa beberapa tahun. Pengetahuan agama maju dengan pesat. Akan tetapi, kematiannya diikuti oleh masa-masa bencana. Tak kala beberapa sultan perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699, beberapa wilayah taklukannya, lepas dan kesultanan menjadi terpecah belah. Setelah itu, pemulihan kembali kesultanan tidak banyak bermanfaat, sehingga menjelang abad ke-18 M kesultanan Aceh merupakan bayangan-bayangan belaka dari masa silam dirinya, tanpa kepemimpinan dan kacau balau.[11]

Menurut H. J. De Graaf, Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi bagian dari wilayah Aceh dan pergantian agama di perkirakan terjadi mendekati pertengahan abad ke-14.[12]
Sedangkan sistem pendidikan di kerajaan Aceh di kembangkan pada lembaga pendidikan antara lain
1.      Balai seutia hukama
2.      Balai seutia ulama
3.      Balai jama’ah himpunan ulama

Adapun jenjang pendidikan yang ada menurut Hasbullah adalah sebagai berikut
1.      Meunasah (Madrasah)
2.      Rangkang
3.      Dayah
4.      Dayah teuku cik



c.       Kerajaan siak (Riau)
Di perkirakan islam masuk ke kerajaan siak pada abad ke-12 M.Ini dapat di lihat pada peninggalan kuburan bertahun 1128 M yang bercorak islam,yaitu kuburan Nizamuddin al-Kamil seorang laksamana dari daulah Fatimiyah.
Adapun tentang 4 penyiar islam dari negri arab yang turun ke negri bawah angin, mereka adalah:
1.      Sayid Abdullah al-Kudsi
2.      Sayid Usman Ibn Syahabudin
3.      Sayid Muhammad Ibn Ahmad al-Aydrus
4.      Sayid Husi Ibn al-Gadri

d.      Kerajaan Minangkabau(Sumatra Barat)

Agama islam dengan cepat dan pesat masuk ke daerah pesisir sumatra barat ini,terutama di kota-kota pelabuhan yang penting sperti Pairaman,Tiku,Padang,Indrapura,Painan,Salido,dan lain-lain.[13]

Pada abad ke-17 islam sudah merata tersebar di Minangkabau bahkan rajanya pun sudah memeluk agama islam yaitu raja Alam  Alif.[14]Setelah berdirinya kerajaan islam di Minangkabau ini maka hukuman yang berlaku,yaitu hukuman adat dan hukuman syara,’yaitu setelah terjadi penyesuaian antara hukum adat dan hukum islam.Penyesuaian itu dikukuhkan dalam Traktak Marapalam yaitu”Adat Basandi Syara”,Syara’Basandi Kitabullah,”Keberadaan Surau sebagai tempat mengaji dan belajar pengetahuan agama tidak hanya dalam wilayah suku yang sempit,tapi juga dalam wilayah teritorial Nagari yang lebih luas,disebut Surau Nagari.[15]Pengaruh Surau di tengah-tengah masyarakat tidak hanya di tentukan oleh jumlah murid saja,namun yang paling menonjol adalah kharisman dan Syekh.Merupakan titik sentral keberlangsungan sebuah Surau. Surau tidak hanya di dirikan sebagai sebuah lembaga pendidikan islam saja,tapi juga sebagai titk sentral bangi keseluruhan islamisasi di Minangkabau.
e.       Kerajaan Sriwijaya(Sumatra Selatan)
Islam masuk ke bumi Sriwijaya pada abad ke-7.Karena Sriwijaya sering di kunjungi pada pedagang arab pada jalur pelayaran,maka islam saat itu merupakan proses awal islamisasi atau permulaan perkenalan masyiarakat dengan islam.China di jaman dinasti T’ang tersebut telah ada kampung arab muslim di pantai Barat Sumatra pada tahun 674 M.[16]
Menurut Tufik Abdullah,[17]Raden Patah yang menurut tradisi historis,adalah anak raja Majapahit,yang bernama Brawijaya kawin dengan putri china yang di lahirkan dan berguru di Palembang.
 Para ulama yang terkenal di kerajaan Sriwijaya di antaranya :
1.      Syarif Abu Bakar
2.      Sayyid Jamaluddin
3.      Di samping itu ada pula ulama-ulama di jaman ke sultanan,di antaranya :
Kyai Haji Kemas Abd al-Shamad(K.H.K, Abd al-Shamad al-Falimbani)
Kyai Haji Masagus Abdul Hamid Ibn Masagur Muhammad(Kyai Maragon)
Ada tiga ulama yang berpengaruh di daerah Komering Ulu dan Komering Ilir yaitu :
1.      Tuan Umar Baginda Saleh/Said Umar Baginda Sari/Raden Amar/Ratu Pamembahan
2.      Tuan Tnjung Darus(Idrus)Salam
3.      Tuan di Pulau/Said Hanim al-Hamiem.
Ketiga ulama di kenal sebagai waliyullah pembawa agama islam.[18]

C. BUKTI MASUKNYA ISLAM KE SUMATERA
Bukti awal mengenai agama Islam berasal dari seorang pengelana Venesia bernama Marco polo. Ketika singgah di sebelah utara pulau Sumatera, dia menemukan sebuah kota Islam bernama Perlakyang dikelilingi oleh daerah-daerah non-Islam. Hal ini diperkuat oleh catatan-catatan yang terdapat dalam buku-buku sejarah seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.
Bukti kedua berasal dari Ibnu Batutah ketika mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345 megatakan bahwa raja yang memerintah negara itu memakai gelar Islam yakni Malikut Thahbir bin Malik Al Saleh.
Bukti ketiga berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Tome Pires, yang mengunjungi Nusantara pada awal abad ke-16. Dalam karyanya berjudul Summa Oriental, dia menjelaskan bahwa menjelang abad ke-13 sudah ada masyarakat Muslim di Samudera Pasai, Perlak, dan Palembang. Selain itu di Pulau Jawa juga ditemukan makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 1082 M dan sejumlah makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13.
Bukti keempat menurut catatan Dinasti Tang, para pedagang Ta-Shih(sebutan bagi kaum Muslim Arab dan Persia) pada abad ke-9 dan ke-10 sudah ada di Kanton dan Sumatera.


[1]Badri Yatim,” Sejarah Peradaban Islam”,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010, hlm 201
[2] Google, http://pingnet-krt.blogspot.com/2011/01/sejarah-islam-di-indonesia-sumatera.html
[3] Badri Yatim, op. Cit, hlm. 205.
[4] Ibid., hlm. 206
[5] Prof.DR. H. Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), hlm.222.
[6] Prof. Dr. H. Abudin Natta, M.A, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, 2010), hlm.160.
[7] Ibid., hlm.160.
[8] Dr. Badri Yatim, op cit,. Hlm.209
[9] Ibid., hlm. 210
[10] Prof. Dr. Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 25.
[11]Dr. Badri Yatim, M.A, op. Cit., hlm. 210
[12] Ibid., hlm. 209.
[13] Prof.DR.H.Ramayulis,op.cit;hlm.227.
[14] Ibid ;hlm.227.
[15] Ibid ;hlm 228.
[16] Ibid ;hlm 229.
[17] Ibid ;hlm 229.
[18] Ibid ;hlm 230.
MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

Banyak teori yang memperkirakan masuknya islam di Indonesia, dari sekian pendapat, maka banyak menetapkan islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7, di bawa oleh saudagar-saudagar Iskam yang juga bertugas sebagai da’i dan di bawa langsung dari tanah Arab.
Seminar masuknya islam ke indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963 sebagai berikut :
a.       Bahwa menurur sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya masuk ke indonesia pada abad pertama Hijriah (abad ke 7/8 Masehi), dan langsung dari Arab.
b.      Bahwa daerah yang pertama didatangi oleh islam ialah Pesisisr Sumatra, dan bahwa setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka Raja Islam yang pertama di Aceh.
c.       Bahwa dalam proses pengislaman selanjutnya orang Indonesia ikut aktif mengambil bagian.
d.      Bahwa Mubaligh-Mubaligh Islam yang mula-mula itu selain sebagian penyiar agama juga sebagai saudagar.
e.       Bahwa penyiaran Islam di Indonesia itu di lakukan dengan  cara damai.
f.       Bahwa kedatangan Islam ke Indonesia itu membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.
Jika ditarik benang merahnya, terdapat beberapa saluran dalam proses masuknya
Islam ke Indonesia, di antaranya sebagai berikut.

a.       Jalur Darat; Para pedagang Islam melintasi jazirah Arab dan menjelajah daerah Barat  ke Gurun Sahara dan Afrika Tengah, sedangkan jalan Timur melalui Bashra, Bagdad, Damaskus, Samarkand, Bukhara, dan kota-kota di Asia Tengah terus ke daratan Cina. Jalur ini disebut jalan sutra karena pada saat itu yang menjadi komoditas utama dalam kegiatan perdagangan adalah berupa sutra, terutama yang berasal dari Cina.

b.      Jalur Laut; Perdagangan yang dilakukan melalui jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara yang dilakukan melalui jalur laut berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Pada saat itu sudah berkembang pelabuhan-pelabuhan laut yang ada di kawasan Asia seperti Muskat di jazirah Arab, Basra di Teluk Parsi, Cambay (Gujarat), Chittagong di Teluk Benggala, Pasai di Pulau Sumatra dan daerah Malaka yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran islamisasi yang berkembang ada enam[1], yaitu:
1.      Saluran perdangan
2.      Saluran perkawinan
3.      Saluran tasawuf
4.      Saluran pendidikan
5.      Saluran kesenian
6.      Saluran politik






A.  PERKEMABANGAN ISLAM DI SUMATERA
Daerah pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah Sumatra bagian Utara seperti Pasai dan Perlak. Para pedagang dari India yakni bangsa Arab, Persi,dan Gujarat yang juga mubalig Islam banyak yang menetap dibandar-bandar sepanjangSumut. Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah diIslamkan, sehingga terbentuklah keluarga-keluarga Muslim.Para mubalig Islam pada waktu itu, tidak hanya bedakwah kepada para penduduk  biasa tetapi juga kepada raja-raja kecil hingga akhirnya berdiri kerajaan Islam pertamayaitu Samudra Pasai.
Sumatera mengawali jejak perjalanan Islam di nusantara. Di bagian utara pulau ini pernah berdiri Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Kerajaan yang berdiri di tanah Aceh itu bahkan pernah dikunjungi Ibnu Batutah, pengembara muslim paling ternama sepanjang sejarah.
Kekayaan khazanah Islam Sumatera lalu dilanjutkan dengan berdirinya kerajaan Malaka (1402 – 1511) yang didirikan oleh Parameswara, seorang putera Sriwijaya yang menyelamatkan diri dari perebutan Palembang oleh Majapahit. Nama Malaka kemudian masyhur sebagai salah satu pelabuhan penting di dunia. Portugis, Belanda dan Inggris pun merapat di sana.
Masih di bagian Utara Sumatera berdiri Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1360 dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh). Sultan Ali Mughayat Syah dinobatan sebagai Sultan pertama pada Ahad, 1 Jumadil Awwal 913 H bertepatan pada 8 September 1507. Selain masyhur dengan sistem pendidikan militer yang baik, komitmennya dalam menentang imperialisme Eropa, sistem pemerintahan teratur dan sistematik, kesultanan Aceh merupakan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan terutama Islam.[2]

B. KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI SUMATERA
a.       Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Seumawe (sekarang pantai timur Aceh), berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Kerajaan ini menjadi pusat penyebaran agama Islam di sekitar Sumatera dan Malaka. Kerajaan Samudera Pasai yang mendapat julukan “Daerah Serambi Mekkah“ini merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Pendiri sekaligus raja pertama kerajaan ini adalah Sultan Malik Al-Saleh (1290-1297).
Kemunculannya sebagai kerajaan islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslimsejak abad ke-7, ke-8 Masehi, dan seterusnya.[3] Dari segi peta politik, munculnya kerajaan Samudera Pasai abad ke-13 M itu sejalan dengan suramnya peranan maritim kerajaan Sriwijaya, yang sebelumnya memegang peranan penting di kawasan Sumatera dan sekelilingnya.[4]
Terdapat petunjuk bahwa tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudra Pasai adalah Muara Sungai Peusangan, sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai yang memudahkan perahu-perahu dan kapal-kapal mengayuhkan dayungnya ke pedalaman dan sebaliknya. Ada dua kota yang terletak bersebrangan di muara sungai Peusangan itu, Pasai dan Samudera. Kota Samudra terletak agak lebih ke pedalaman, sedangkan kota Pasai terletak lebih kemuara.
Pendapat bahwa Islam sudah berkembang disana sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn Batutah, seorang pengembara terkenal asal Marokko, yang pada pertengahan abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 M) mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalanannya dari Delhi ke Cina. Ibnu Batutah menyatakan bahwa islam sudah hampir satu abad lamanya di siarkan disana. Ia meriwayatkan kesalehan, kerendahan hati, dan semangat ke agamaan rajanya yang seperti rakyatnya, mengikuti mazhab Syafi’i. Berdasarkan beritanya pula, kerajaan Samudra Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi masalah keagamaan dan keduniaan.
Keterangan Ibnu Batutah tersebut dapat di tarik kesimpulan, bahwa sistem pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut :
1.      Materi pendidikan dan pengajaran agama di bidang syariat Fiqh mazhab Syafi’i
2.      Sistem pendidikan secara non-formal berupa majlis taklim dan halaqah
3.      Pejabat pemerintahan merangkap sebagai tokoh ulama
4.      Baiya pendidikan bersumber dari negara [5]
Di antara pejabat pemerintahan yang merupakan ulama yang alim antara lain:
1.      Sri Kaya Ghisayuddin, sebagai Perdana Menteri
2.      Sayid Ali al-Makrany, sebagai Syakh al-Islam
3.      Bawa Kayu Ali Hisamuddin al-Malabary, sebagai Menteri Luar Negeri
Samudera Pasai berada di puncak kejayaannya ketika masa pemerintahan Sultan Ahmad Bahian Syah Malik Zahir pada tahun 727-750 H/1326-1345 M.
Sejarah mencatat, bahwa kerajaan Samudra Pasai ini pernah mengalami kemajuan dalam seluruh bidang kehidupan, yakni kemajuan dalam bidang perekonomian yang berbasis pada perdagangan dan pelayaran yang memperoleh keuntungan dan pajak yang besar, yakni sebesar 6% dari total barang yang di jual. Hal ini terjadi, karena Samudra Pasai dilihat dari segi geografis dan sosial ekonomi, memeng merupakan suatu daerah yang penting sebagai penghubung antara pusat-pusat perdangan yang terdapat di kepulauan Indonesia, Cina dan Arab.
Kemajuan dalam bidang perekonomian dan perdagangan ini di perkuat dengan adanya mata uang dirham dari Samudra Pasai, adanya mata uang itu membuktikan bahwa kerajaan ini pada saat itu merupakan kerajaan yang makmur. Mata uang dirham dari Samudra Pasai tersebut pernah di teliti oleh H.K.J. Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti sejarah Raja-raja Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama Sultan Alauddin, Sultan Manshur Malik Al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah. Pada tahun 1973 , di temukan lagi 11 mata uang dirham yang di antaranya bertuliskan nama Sultan uhammmad MalikAl-Zahir, Sultan Ahmad, Sultan Abdullah yang semuanya adalah raja-raja Samudra Pasai pada abad ke -14 dan 15 M.
Atas dasar mata uang emas yang di temukan itu, maka nama-nama raja Samudra Pasai dan urutannya dapat di ketahui dengan jelas, adalah sebagai berikut:
1.      Sultan Malik Al-Saleh yang memerintah sampai tahun 1207 M
2.      Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326 M )
3.      Mahmud Malik Al-Zahir (1326-1345 M )
4.      Manshur Malik Al-Zahir ( 1345-1346 M )
5.      Ahmad Malik Al-Zahir (1346-1383 M )
6.      Zain Al-Abidin Malik Al-Zahir (1383-1405 M )
7.      Nahrasiyah (1402-? )
8.      Abu Zaid Malik Al-Zahir ( ?-1455 M )
9.      Mahmud Malik Al-Zahir ( 1455-1477  M  )
10.  Zain Al-Abidin (1477-1500 M )
11.  Abdullah Malik Al-Zahir (1501-1513 M )
12.  Zain Al-Abidin (1513-1524 M )[6] 
Kerajaan Samudra Pasai ini berlangsung sampai dengan tahun 1524 M. Karena pada tahun 1521 M, kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun, dan pada tahun 1524 M, kerajaan tersebut dianeksasi oleh raja Aceh, Ali Mughayatsyah. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai ini berada di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Banda Aceh Darussalam .[7]
b.      Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh Darussalam didirikan di atas puing-puing kerajaan Lamuri pada abad ke-15 M. Oleh Mudzaffar Syah ( 1465-1497 M ). Sebuah sumber lain menyebutkan, bahwa kerajaan Aceh Darussalam merupakan penyatuan dari dua karajaan kecil, yaitu Lamuri dan Aceh Dar al-Kamal dengan rajanya yang pertama Ali Mughayatsyah.
Pertumbuhan kerajaan Aceh disebabkan kemajuan perdaganganpada permulaan abad ke-15 M. Jalan dagang yang sebelumnya dari laut Jawa ke utara melalaui selat karimata terus ke Makala, pindah melalui Selat Sunda dan menyusur pantai Barat Sumatra, terus ke Aceh. Dengan demikian, Aceh menjadi ramai dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri.
Ali mughayatssyah meluaskan wilayah kekuasaannya ke daerah Pidie yang bekerjasama dengan Portugis, kemudian ke Pasai pada tahun 1524 M. Dengan kemenangannya terhadap dua kerajaan trsebut, Aceh dengan mudah melebarkan sayap kekuasaannya ke Sumatera Timur. Untuk mengatur daerah Sumatera Timur, raja Aceh mengirim panglima-panglimanya, salah seorang diantaranya adalah Gocah, pahlawan yang menurunkan sultan-sultan Deli dan Serdang.[8]
Peletak dasar kebesaran kerajaan Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah yang bergelar Al-Qahar. Dalam menghadapi bala tentara Portugis ia menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan Usmani di Turki dan negara-negara Islam yang lain di Indonesia.
Puncak kebesaran Aceh terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda ( 1608-1637 ). Pada masanya Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir Timur dan Barat Sumatera. Dari Aceh, Tanah Gayo yang berbatasan diislamkan, juga Minangkabau. Hanya orang-orang kafir Batak yang berusaha menangkis kekuatan-kekuatan Islam yang datang, bahkan mereka melangkah begitu jauh sampai minta bantuan Portugis.[9] Untuk mengalahkan Portugis, Sultan kemudian bekerjasama dengan musuh Portugis, yaitu Belanda dan Inggris.
Kepopuleran Iskandar Muda dapat di lihat dari nama-nama yang dipakai yaitu Dharma Wangsa, Perkasa Alam, Johan Berdaulat, sedangkan sesudah wafat disebut Marhum Mahkota Alam.[10] Pada zaman kebesaran Aceh terkenal empat ulama besar, yaitu Hamzah Fansuri, Symsuddin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan Abd. Rauf Singkel.
Setelah Iskandar Muda wafat digantikan oleh Sultan Iskandar Thani. Tata pemerintahan Aceh diatur dalam undang-undang yang disebut Adat Mahkota Alam. Berdasarkan tata pemerintahan tersebut, wilayah Acehdibagi dalam wilayah sagi dan wilayah pusat kerajaan. Setiap sagi terdiri dari sejumlah mukmin dan dikepalai oleh panglima sagi yang disebut hulubalang besar.

Masyarakat Aceh dikelompokkan dalam golongan Teuku, yakni golongan masyarakat bangsawan, dan golongan Tengku, yakni golongan agama. Penghasilan Kerajaan Aceh didapat dari penarikan pajak dan cukai yang terdiri dari beberapa macam antara lain pajak pasar dan cukai intan. Dalam bidang sastra, Aceh banyak melahirkan tokoh-tokoh, antara lain Syamsuddin Pasai, Hamzah Fansyuri, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdul al-Rauf. Nuruddin ar-Raniri mengarang Bustanus Salatin (taman raja-raja dan adat istiadat Aceh serta ajaran Islam). Abdul al-Rauf dari Singkel (Syeikh Kuala) membuat tafsir Alquran dalam bahasa Melayu. Ia menentang aliran heterodoks (makhluk yang diciptakan sebagai
penampilan dari penciptanya). Aliran yang dianutnya adalah aliran ortodoks, yakni Allah pencipta dan makhluk ciptaan-Nya tidak dapat mengetahui keadaan-Nya.

Pada masanya, Aceh terus berkembang untuk masa beberapa tahun. Pengetahuan agama maju dengan pesat. Akan tetapi, kematiannya diikuti oleh masa-masa bencana. Tak kala beberapa sultan perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699, beberapa wilayah taklukannya, lepas dan kesultanan menjadi terpecah belah. Setelah itu, pemulihan kembali kesultanan tidak banyak bermanfaat, sehingga menjelang abad ke-18 M kesultanan Aceh merupakan bayangan-bayangan belaka dari masa silam dirinya, tanpa kepemimpinan dan kacau balau.[11]

Menurut H. J. De Graaf, Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi bagian dari wilayah Aceh dan pergantian agama di perkirakan terjadi mendekati pertengahan abad ke-14.[12]
Sedangkan sistem pendidikan di kerajaan Aceh di kembangkan pada lembaga pendidikan antara lain
1.      Balai seutia hukama
2.      Balai seutia ulama
3.      Balai jama’ah himpunan ulama

Adapun jenjang pendidikan yang ada menurut Hasbullah adalah sebagai berikut
1.      Meunasah (Madrasah)
2.      Rangkang
3.      Dayah
4.      Dayah teuku cik



c.       Kerajaan siak (Riau)
Di perkirakan islam masuk ke kerajaan siak pada abad ke-12 M.Ini dapat di lihat pada peninggalan kuburan bertahun 1128 M yang bercorak islam,yaitu kuburan Nizamuddin al-Kamil seorang laksamana dari daulah Fatimiyah.
Adapun tentang 4 penyiar islam dari negri arab yang turun ke negri bawah angin, mereka adalah:
1.      Sayid Abdullah al-Kudsi
2.      Sayid Usman Ibn Syahabudin
3.      Sayid Muhammad Ibn Ahmad al-Aydrus
4.      Sayid Husi Ibn al-Gadri

d.      Kerajaan Minangkabau(Sumatra Barat)

Agama islam dengan cepat dan pesat masuk ke daerah pesisir sumatra barat ini,terutama di kota-kota pelabuhan yang penting sperti Pairaman,Tiku,Padang,Indrapura,Painan,Salido,dan lain-lain.[13]

Pada abad ke-17 islam sudah merata tersebar di Minangkabau bahkan rajanya pun sudah memeluk agama islam yaitu raja Alam  Alif.[14]Setelah berdirinya kerajaan islam di Minangkabau ini maka hukuman yang berlaku,yaitu hukuman adat dan hukuman syara,’yaitu setelah terjadi penyesuaian antara hukum adat dan hukum islam.Penyesuaian itu dikukuhkan dalam Traktak Marapalam yaitu”Adat Basandi Syara”,Syara’Basandi Kitabullah,”Keberadaan Surau sebagai tempat mengaji dan belajar pengetahuan agama tidak hanya dalam wilayah suku yang sempit,tapi juga dalam wilayah teritorial Nagari yang lebih luas,disebut Surau Nagari.[15]Pengaruh Surau di tengah-tengah masyarakat tidak hanya di tentukan oleh jumlah murid saja,namun yang paling menonjol adalah kharisman dan Syekh.Merupakan titik sentral keberlangsungan sebuah Surau. Surau tidak hanya di dirikan sebagai sebuah lembaga pendidikan islam saja,tapi juga sebagai titk sentral bangi keseluruhan islamisasi di Minangkabau.
e.       Kerajaan Sriwijaya(Sumatra Selatan)
Islam masuk ke bumi Sriwijaya pada abad ke-7.Karena Sriwijaya sering di kunjungi pada pedagang arab pada jalur pelayaran,maka islam saat itu merupakan proses awal islamisasi atau permulaan perkenalan masyiarakat dengan islam.China di jaman dinasti T’ang tersebut telah ada kampung arab muslim di pantai Barat Sumatra pada tahun 674 M.[16]
Menurut Tufik Abdullah,[17]Raden Patah yang menurut tradisi historis,adalah anak raja Majapahit,yang bernama Brawijaya kawin dengan putri china yang di lahirkan dan berguru di Palembang.
 Para ulama yang terkenal di kerajaan Sriwijaya di antaranya :
1.      Syarif Abu Bakar
2.      Sayyid Jamaluddin
3.      Di samping itu ada pula ulama-ulama di jaman ke sultanan,di antaranya :
Kyai Haji Kemas Abd al-Shamad(K.H.K, Abd al-Shamad al-Falimbani)
Kyai Haji Masagus Abdul Hamid Ibn Masagur Muhammad(Kyai Maragon)
Ada tiga ulama yang berpengaruh di daerah Komering Ulu dan Komering Ilir yaitu :
1.      Tuan Umar Baginda Saleh/Said Umar Baginda Sari/Raden Amar/Ratu Pamembahan
2.      Tuan Tnjung Darus(Idrus)Salam
3.      Tuan di Pulau/Said Hanim al-Hamiem.
Ketiga ulama di kenal sebagai waliyullah pembawa agama islam.[18]

C. BUKTI MASUKNYA ISLAM KE SUMATERA
Bukti awal mengenai agama Islam berasal dari seorang pengelana Venesia bernama Marco polo. Ketika singgah di sebelah utara pulau Sumatera, dia menemukan sebuah kota Islam bernama Perlakyang dikelilingi oleh daerah-daerah non-Islam. Hal ini diperkuat oleh catatan-catatan yang terdapat dalam buku-buku sejarah seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.
Bukti kedua berasal dari Ibnu Batutah ketika mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345 megatakan bahwa raja yang memerintah negara itu memakai gelar Islam yakni Malikut Thahbir bin Malik Al Saleh.
Bukti ketiga berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Tome Pires, yang mengunjungi Nusantara pada awal abad ke-16. Dalam karyanya berjudul Summa Oriental, dia menjelaskan bahwa menjelang abad ke-13 sudah ada masyarakat Muslim di Samudera Pasai, Perlak, dan Palembang. Selain itu di Pulau Jawa juga ditemukan makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 1082 M dan sejumlah makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13.
Bukti keempat menurut catatan Dinasti Tang, para pedagang Ta-Shih(sebutan bagi kaum Muslim Arab dan Persia) pada abad ke-9 dan ke-10 sudah ada di Kanton dan Sumatera.


[1]Badri Yatim,” Sejarah Peradaban Islam”,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010, hlm 201
[2] Google, http://pingnet-krt.blogspot.com/2011/01/sejarah-islam-di-indonesia-sumatera.html
[3] Badri Yatim, op. Cit, hlm. 205.
[4] Ibid., hlm. 206
[5] Prof.DR. H. Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), hlm.222.
[6] Prof. Dr. H. Abudin Natta, M.A, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, 2010), hlm.160.
[7] Ibid., hlm.160.
[8] Dr. Badri Yatim, op cit,. Hlm.209
[9] Ibid., hlm. 210
[10] Prof. Dr. Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 25.
[11]Dr. Badri Yatim, M.A, op. Cit., hlm. 210
[12] Ibid., hlm. 209.
[13] Prof.DR.H.Ramayulis,op.cit;hlm.227.
[14] Ibid ;hlm.227.
[15] Ibid ;hlm 228.
[16] Ibid ;hlm 229.
[17] Ibid ;hlm 229.
[18] Ibid ;hlm 230.
MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

Banyak teori yang memperkirakan masuknya islam di Indonesia, dari sekian pendapat, maka banyak menetapkan islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7, di bawa oleh saudagar-saudagar Iskam yang juga bertugas sebagai da’i dan di bawa langsung dari tanah Arab.
Seminar masuknya islam ke indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963 sebagai berikut :
a.       Bahwa menurur sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya masuk ke indonesia pada abad pertama Hijriah (abad ke 7/8 Masehi), dan langsung dari Arab.
b.      Bahwa daerah yang pertama didatangi oleh islam ialah Pesisisr Sumatra, dan bahwa setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka Raja Islam yang pertama di Aceh.
c.       Bahwa dalam proses pengislaman selanjutnya orang Indonesia ikut aktif mengambil bagian.
d.      Bahwa Mubaligh-Mubaligh Islam yang mula-mula itu selain sebagian penyiar agama juga sebagai saudagar.
e.       Bahwa penyiaran Islam di Indonesia itu di lakukan dengan  cara damai.
f.       Bahwa kedatangan Islam ke Indonesia itu membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.
Jika ditarik benang merahnya, terdapat beberapa saluran dalam proses masuknya
Islam ke Indonesia, di antaranya sebagai berikut.

a.       Jalur Darat; Para pedagang Islam melintasi jazirah Arab dan menjelajah daerah Barat  ke Gurun Sahara dan Afrika Tengah, sedangkan jalan Timur melalui Bashra, Bagdad, Damaskus, Samarkand, Bukhara, dan kota-kota di Asia Tengah terus ke daratan Cina. Jalur ini disebut jalan sutra karena pada saat itu yang menjadi komoditas utama dalam kegiatan perdagangan adalah berupa sutra, terutama yang berasal dari Cina.

b.      Jalur Laut; Perdagangan yang dilakukan melalui jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara yang dilakukan melalui jalur laut berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Pada saat itu sudah berkembang pelabuhan-pelabuhan laut yang ada di kawasan Asia seperti Muskat di jazirah Arab, Basra di Teluk Parsi, Cambay (Gujarat), Chittagong di Teluk Benggala, Pasai di Pulau Sumatra dan daerah Malaka yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran islamisasi yang berkembang ada enam[1], yaitu:
1.      Saluran perdangan
2.      Saluran perkawinan
3.      Saluran tasawuf
4.      Saluran pendidikan
5.      Saluran kesenian
6.      Saluran politik






A.  PERKEMABANGAN ISLAM DI SUMATERA
Daerah pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah Sumatra bagian Utara seperti Pasai dan Perlak. Para pedagang dari India yakni bangsa Arab, Persi,dan Gujarat yang juga mubalig Islam banyak yang menetap dibandar-bandar sepanjangSumut. Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah diIslamkan, sehingga terbentuklah keluarga-keluarga Muslim.Para mubalig Islam pada waktu itu, tidak hanya bedakwah kepada para penduduk  biasa tetapi juga kepada raja-raja kecil hingga akhirnya berdiri kerajaan Islam pertamayaitu Samudra Pasai.
Sumatera mengawali jejak perjalanan Islam di nusantara. Di bagian utara pulau ini pernah berdiri Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Kerajaan yang berdiri di tanah Aceh itu bahkan pernah dikunjungi Ibnu Batutah, pengembara muslim paling ternama sepanjang sejarah.
Kekayaan khazanah Islam Sumatera lalu dilanjutkan dengan berdirinya kerajaan Malaka (1402 – 1511) yang didirikan oleh Parameswara, seorang putera Sriwijaya yang menyelamatkan diri dari perebutan Palembang oleh Majapahit. Nama Malaka kemudian masyhur sebagai salah satu pelabuhan penting di dunia. Portugis, Belanda dan Inggris pun merapat di sana.
Masih di bagian Utara Sumatera berdiri Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1360 dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh). Sultan Ali Mughayat Syah dinobatan sebagai Sultan pertama pada Ahad, 1 Jumadil Awwal 913 H bertepatan pada 8 September 1507. Selain masyhur dengan sistem pendidikan militer yang baik, komitmennya dalam menentang imperialisme Eropa, sistem pemerintahan teratur dan sistematik, kesultanan Aceh merupakan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan terutama Islam.[2]

B. KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI SUMATERA
a.       Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Seumawe (sekarang pantai timur Aceh), berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Kerajaan ini menjadi pusat penyebaran agama Islam di sekitar Sumatera dan Malaka. Kerajaan Samudera Pasai yang mendapat julukan “Daerah Serambi Mekkah“ini merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Pendiri sekaligus raja pertama kerajaan ini adalah Sultan Malik Al-Saleh (1290-1297).
Kemunculannya sebagai kerajaan islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslimsejak abad ke-7, ke-8 Masehi, dan seterusnya.[3] Dari segi peta politik, munculnya kerajaan Samudera Pasai abad ke-13 M itu sejalan dengan suramnya peranan maritim kerajaan Sriwijaya, yang sebelumnya memegang peranan penting di kawasan Sumatera dan sekelilingnya.[4]
Terdapat petunjuk bahwa tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudra Pasai adalah Muara Sungai Peusangan, sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai yang memudahkan perahu-perahu dan kapal-kapal mengayuhkan dayungnya ke pedalaman dan sebaliknya. Ada dua kota yang terletak bersebrangan di muara sungai Peusangan itu, Pasai dan Samudera. Kota Samudra terletak agak lebih ke pedalaman, sedangkan kota Pasai terletak lebih kemuara.
Pendapat bahwa Islam sudah berkembang disana sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn Batutah, seorang pengembara terkenal asal Marokko, yang pada pertengahan abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 M) mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalanannya dari Delhi ke Cina. Ibnu Batutah menyatakan bahwa islam sudah hampir satu abad lamanya di siarkan disana. Ia meriwayatkan kesalehan, kerendahan hati, dan semangat ke agamaan rajanya yang seperti rakyatnya, mengikuti mazhab Syafi’i. Berdasarkan beritanya pula, kerajaan Samudra Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi masalah keagamaan dan keduniaan.
Keterangan Ibnu Batutah tersebut dapat di tarik kesimpulan, bahwa sistem pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut :
1.      Materi pendidikan dan pengajaran agama di bidang syariat Fiqh mazhab Syafi’i
2.      Sistem pendidikan secara non-formal berupa majlis taklim dan halaqah
3.      Pejabat pemerintahan merangkap sebagai tokoh ulama
4.      Baiya pendidikan bersumber dari negara [5]
Di antara pejabat pemerintahan yang merupakan ulama yang alim antara lain:
1.      Sri Kaya Ghisayuddin, sebagai Perdana Menteri
2.      Sayid Ali al-Makrany, sebagai Syakh al-Islam
3.      Bawa Kayu Ali Hisamuddin al-Malabary, sebagai Menteri Luar Negeri
Samudera Pasai berada di puncak kejayaannya ketika masa pemerintahan Sultan Ahmad Bahian Syah Malik Zahir pada tahun 727-750 H/1326-1345 M.
Sejarah mencatat, bahwa kerajaan Samudra Pasai ini pernah mengalami kemajuan dalam seluruh bidang kehidupan, yakni kemajuan dalam bidang perekonomian yang berbasis pada perdagangan dan pelayaran yang memperoleh keuntungan dan pajak yang besar, yakni sebesar 6% dari total barang yang di jual. Hal ini terjadi, karena Samudra Pasai dilihat dari segi geografis dan sosial ekonomi, memeng merupakan suatu daerah yang penting sebagai penghubung antara pusat-pusat perdangan yang terdapat di kepulauan Indonesia, Cina dan Arab.
Kemajuan dalam bidang perekonomian dan perdagangan ini di perkuat dengan adanya mata uang dirham dari Samudra Pasai, adanya mata uang itu membuktikan bahwa kerajaan ini pada saat itu merupakan kerajaan yang makmur. Mata uang dirham dari Samudra Pasai tersebut pernah di teliti oleh H.K.J. Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti sejarah Raja-raja Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama Sultan Alauddin, Sultan Manshur Malik Al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah. Pada tahun 1973 , di temukan lagi 11 mata uang dirham yang di antaranya bertuliskan nama Sultan uhammmad MalikAl-Zahir, Sultan Ahmad, Sultan Abdullah yang semuanya adalah raja-raja Samudra Pasai pada abad ke -14 dan 15 M.
Atas dasar mata uang emas yang di temukan itu, maka nama-nama raja Samudra Pasai dan urutannya dapat di ketahui dengan jelas, adalah sebagai berikut:
1.      Sultan Malik Al-Saleh yang memerintah sampai tahun 1207 M
2.      Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326 M )
3.      Mahmud Malik Al-Zahir (1326-1345 M )
4.      Manshur Malik Al-Zahir ( 1345-1346 M )
5.      Ahmad Malik Al-Zahir (1346-1383 M )
6.      Zain Al-Abidin Malik Al-Zahir (1383-1405 M )
7.      Nahrasiyah (1402-? )
8.      Abu Zaid Malik Al-Zahir ( ?-1455 M )
9.      Mahmud Malik Al-Zahir ( 1455-1477  M  )
10.  Zain Al-Abidin (1477-1500 M )
11.  Abdullah Malik Al-Zahir (1501-1513 M )
12.  Zain Al-Abidin (1513-1524 M )[6] 
Kerajaan Samudra Pasai ini berlangsung sampai dengan tahun 1524 M. Karena pada tahun 1521 M, kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun, dan pada tahun 1524 M, kerajaan tersebut dianeksasi oleh raja Aceh, Ali Mughayatsyah. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai ini berada di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Banda Aceh Darussalam .[7]
b.      Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh Darussalam didirikan di atas puing-puing kerajaan Lamuri pada abad ke-15 M. Oleh Mudzaffar Syah ( 1465-1497 M ). Sebuah sumber lain menyebutkan, bahwa kerajaan Aceh Darussalam merupakan penyatuan dari dua karajaan kecil, yaitu Lamuri dan Aceh Dar al-Kamal dengan rajanya yang pertama Ali Mughayatsyah.
Pertumbuhan kerajaan Aceh disebabkan kemajuan perdaganganpada permulaan abad ke-15 M. Jalan dagang yang sebelumnya dari laut Jawa ke utara melalaui selat karimata terus ke Makala, pindah melalui Selat Sunda dan menyusur pantai Barat Sumatra, terus ke Aceh. Dengan demikian, Aceh menjadi ramai dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri.
Ali mughayatssyah meluaskan wilayah kekuasaannya ke daerah Pidie yang bekerjasama dengan Portugis, kemudian ke Pasai pada tahun 1524 M. Dengan kemenangannya terhadap dua kerajaan trsebut, Aceh dengan mudah melebarkan sayap kekuasaannya ke Sumatera Timur. Untuk mengatur daerah Sumatera Timur, raja Aceh mengirim panglima-panglimanya, salah seorang diantaranya adalah Gocah, pahlawan yang menurunkan sultan-sultan Deli dan Serdang.[8]
Peletak dasar kebesaran kerajaan Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah yang bergelar Al-Qahar. Dalam menghadapi bala tentara Portugis ia menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan Usmani di Turki dan negara-negara Islam yang lain di Indonesia.
Puncak kebesaran Aceh terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda ( 1608-1637 ). Pada masanya Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir Timur dan Barat Sumatera. Dari Aceh, Tanah Gayo yang berbatasan diislamkan, juga Minangkabau. Hanya orang-orang kafir Batak yang berusaha menangkis kekuatan-kekuatan Islam yang datang, bahkan mereka melangkah begitu jauh sampai minta bantuan Portugis.[9] Untuk mengalahkan Portugis, Sultan kemudian bekerjasama dengan musuh Portugis, yaitu Belanda dan Inggris.
Kepopuleran Iskandar Muda dapat di lihat dari nama-nama yang dipakai yaitu Dharma Wangsa, Perkasa Alam, Johan Berdaulat, sedangkan sesudah wafat disebut Marhum Mahkota Alam.[10] Pada zaman kebesaran Aceh terkenal empat ulama besar, yaitu Hamzah Fansuri, Symsuddin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan Abd. Rauf Singkel.
Setelah Iskandar Muda wafat digantikan oleh Sultan Iskandar Thani. Tata pemerintahan Aceh diatur dalam undang-undang yang disebut Adat Mahkota Alam. Berdasarkan tata pemerintahan tersebut, wilayah Acehdibagi dalam wilayah sagi dan wilayah pusat kerajaan. Setiap sagi terdiri dari sejumlah mukmin dan dikepalai oleh panglima sagi yang disebut hulubalang besar.

Masyarakat Aceh dikelompokkan dalam golongan Teuku, yakni golongan masyarakat bangsawan, dan golongan Tengku, yakni golongan agama. Penghasilan Kerajaan Aceh didapat dari penarikan pajak dan cukai yang terdiri dari beberapa macam antara lain pajak pasar dan cukai intan. Dalam bidang sastra, Aceh banyak melahirkan tokoh-tokoh, antara lain Syamsuddin Pasai, Hamzah Fansyuri, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdul al-Rauf. Nuruddin ar-Raniri mengarang Bustanus Salatin (taman raja-raja dan adat istiadat Aceh serta ajaran Islam). Abdul al-Rauf dari Singkel (Syeikh Kuala) membuat tafsir Alquran dalam bahasa Melayu. Ia menentang aliran heterodoks (makhluk yang diciptakan sebagai
penampilan dari penciptanya). Aliran yang dianutnya adalah aliran ortodoks, yakni Allah pencipta dan makhluk ciptaan-Nya tidak dapat mengetahui keadaan-Nya.

Pada masanya, Aceh terus berkembang untuk masa beberapa tahun. Pengetahuan agama maju dengan pesat. Akan tetapi, kematiannya diikuti oleh masa-masa bencana. Tak kala beberapa sultan perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699, beberapa wilayah taklukannya, lepas dan kesultanan menjadi terpecah belah. Setelah itu, pemulihan kembali kesultanan tidak banyak bermanfaat, sehingga menjelang abad ke-18 M kesultanan Aceh merupakan bayangan-bayangan belaka dari masa silam dirinya, tanpa kepemimpinan dan kacau balau.[11]

Menurut H. J. De Graaf, Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi bagian dari wilayah Aceh dan pergantian agama di perkirakan terjadi mendekati pertengahan abad ke-14.[12]
Sedangkan sistem pendidikan di kerajaan Aceh di kembangkan pada lembaga pendidikan antara lain
1.      Balai seutia hukama
2.      Balai seutia ulama
3.      Balai jama’ah himpunan ulama

Adapun jenjang pendidikan yang ada menurut Hasbullah adalah sebagai berikut
1.      Meunasah (Madrasah)
2.      Rangkang
3.      Dayah
4.      Dayah teuku cik



c.       Kerajaan siak (Riau)
Di perkirakan islam masuk ke kerajaan siak pada abad ke-12 M.Ini dapat di lihat pada peninggalan kuburan bertahun 1128 M yang bercorak islam,yaitu kuburan Nizamuddin al-Kamil seorang laksamana dari daulah Fatimiyah.
Adapun tentang 4 penyiar islam dari negri arab yang turun ke negri bawah angin, mereka adalah:
1.      Sayid Abdullah al-Kudsi
2.      Sayid Usman Ibn Syahabudin
3.      Sayid Muhammad Ibn Ahmad al-Aydrus
4.      Sayid Husi Ibn al-Gadri

d.      Kerajaan Minangkabau(Sumatra Barat)

Agama islam dengan cepat dan pesat masuk ke daerah pesisir sumatra barat ini,terutama di kota-kota pelabuhan yang penting sperti Pairaman,Tiku,Padang,Indrapura,Painan,Salido,dan lain-lain.[13]

Pada abad ke-17 islam sudah merata tersebar di Minangkabau bahkan rajanya pun sudah memeluk agama islam yaitu raja Alam  Alif.[14]Setelah berdirinya kerajaan islam di Minangkabau ini maka hukuman yang berlaku,yaitu hukuman adat dan hukuman syara,’yaitu setelah terjadi penyesuaian antara hukum adat dan hukum islam.Penyesuaian itu dikukuhkan dalam Traktak Marapalam yaitu”Adat Basandi Syara”,Syara’Basandi Kitabullah,”Keberadaan Surau sebagai tempat mengaji dan belajar pengetahuan agama tidak hanya dalam wilayah suku yang sempit,tapi juga dalam wilayah teritorial Nagari yang lebih luas,disebut Surau Nagari.[15]Pengaruh Surau di tengah-tengah masyarakat tidak hanya di tentukan oleh jumlah murid saja,namun yang paling menonjol adalah kharisman dan Syekh.Merupakan titik sentral keberlangsungan sebuah Surau. Surau tidak hanya di dirikan sebagai sebuah lembaga pendidikan islam saja,tapi juga sebagai titk sentral bangi keseluruhan islamisasi di Minangkabau.
e.       Kerajaan Sriwijaya(Sumatra Selatan)
Islam masuk ke bumi Sriwijaya pada abad ke-7.Karena Sriwijaya sering di kunjungi pada pedagang arab pada jalur pelayaran,maka islam saat itu merupakan proses awal islamisasi atau permulaan perkenalan masyiarakat dengan islam.China di jaman dinasti T’ang tersebut telah ada kampung arab muslim di pantai Barat Sumatra pada tahun 674 M.[16]
Menurut Tufik Abdullah,[17]Raden Patah yang menurut tradisi historis,adalah anak raja Majapahit,yang bernama Brawijaya kawin dengan putri china yang di lahirkan dan berguru di Palembang.
 Para ulama yang terkenal di kerajaan Sriwijaya di antaranya :
1.      Syarif Abu Bakar
2.      Sayyid Jamaluddin
3.      Di samping itu ada pula ulama-ulama di jaman ke sultanan,di antaranya :
Kyai Haji Kemas Abd al-Shamad(K.H.K, Abd al-Shamad al-Falimbani)
Kyai Haji Masagus Abdul Hamid Ibn Masagur Muhammad(Kyai Maragon)
Ada tiga ulama yang berpengaruh di daerah Komering Ulu dan Komering Ilir yaitu :
1.      Tuan Umar Baginda Saleh/Said Umar Baginda Sari/Raden Amar/Ratu Pamembahan
2.      Tuan Tnjung Darus(Idrus)Salam
3.      Tuan di Pulau/Said Hanim al-Hamiem.
Ketiga ulama di kenal sebagai waliyullah pembawa agama islam.[18]

C. BUKTI MASUKNYA ISLAM KE SUMATERA
Bukti awal mengenai agama Islam berasal dari seorang pengelana Venesia bernama Marco polo. Ketika singgah di sebelah utara pulau Sumatera, dia menemukan sebuah kota Islam bernama Perlakyang dikelilingi oleh daerah-daerah non-Islam. Hal ini diperkuat oleh catatan-catatan yang terdapat dalam buku-buku sejarah seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.
Bukti kedua berasal dari Ibnu Batutah ketika mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345 megatakan bahwa raja yang memerintah negara itu memakai gelar Islam yakni Malikut Thahbir bin Malik Al Saleh.
Bukti ketiga berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Tome Pires, yang mengunjungi Nusantara pada awal abad ke-16. Dalam karyanya berjudul Summa Oriental, dia menjelaskan bahwa menjelang abad ke-13 sudah ada masyarakat Muslim di Samudera Pasai, Perlak, dan Palembang. Selain itu di Pulau Jawa juga ditemukan makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 1082 M dan sejumlah makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13.
Bukti keempat menurut catatan Dinasti Tang, para pedagang Ta-Shih(sebutan bagi kaum Muslim Arab dan Persia) pada abad ke-9 dan ke-10 sudah ada di Kanton dan Sumatera.


[1]Badri Yatim,” Sejarah Peradaban Islam”,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010, hlm 201
[2] Google, http://pingnet-krt.blogspot.com/2011/01/sejarah-islam-di-indonesia-sumatera.html
[3] Badri Yatim, op. Cit, hlm. 205.
[4] Ibid., hlm. 206
[5] Prof.DR. H. Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), hlm.222.
[6] Prof. Dr. H. Abudin Natta, M.A, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, 2010), hlm.160.
[7] Ibid., hlm.160.
[8] Dr. Badri Yatim, op cit,. Hlm.209
[9] Ibid., hlm. 210
[10] Prof. Dr. Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 25.
[11]Dr. Badri Yatim, M.A, op. Cit., hlm. 210
[12] Ibid., hlm. 209.
[13] Prof.DR.H.Ramayulis,op.cit;hlm.227.
[14] Ibid ;hlm.227.
[15] Ibid ;hlm 228.
[16] Ibid ;hlm 229.
[17] Ibid ;hlm 229.
[18] Ibid ;hlm 230.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar