MASUKNYA
ISLAM DI INDONESIA
Banyak
teori yang memperkirakan masuknya islam di Indonesia, dari sekian pendapat,
maka banyak menetapkan islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7, di bawa oleh
saudagar-saudagar Iskam yang juga bertugas sebagai da’i dan di bawa langsung
dari tanah Arab.
Seminar
masuknya islam ke indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963 sebagai berikut :
a.
Bahwa menurur
sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya masuk ke indonesia
pada abad pertama Hijriah (abad ke 7/8 Masehi), dan langsung dari Arab.
b.
Bahwa daerah yang
pertama didatangi oleh islam ialah Pesisisr Sumatra, dan bahwa setelah
terbentuknya masyarakat Islam, maka Raja Islam yang pertama di Aceh.
c.
Bahwa dalam proses
pengislaman selanjutnya orang Indonesia ikut aktif mengambil bagian.
d.
Bahwa Mubaligh-Mubaligh
Islam yang mula-mula itu selain sebagian penyiar agama juga sebagai saudagar.
e.
Bahwa penyiaran Islam
di Indonesia itu di lakukan dengan cara
damai.
f.
Bahwa kedatangan Islam
ke Indonesia itu membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk
kepribadian bangsa Indonesia.
Jika ditarik benang merahnya, terdapat beberapa saluran dalam
proses masuknya
Islam ke Indonesia, di antaranya sebagai berikut.
a.
Jalur
Darat; Para pedagang Islam melintasi jazirah Arab dan menjelajah daerah Barat ke Gurun Sahara dan Afrika Tengah, sedangkan
jalan Timur melalui Bashra, Bagdad, Damaskus, Samarkand, Bukhara, dan kota-kota
di Asia Tengah terus ke daratan Cina. Jalur ini disebut jalan sutra karena pada
saat itu yang menjadi komoditas utama dalam kegiatan perdagangan adalah berupa
sutra, terutama yang berasal dari Cina.
b.
Jalur Laut;
Perdagangan yang dilakukan melalui jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara yang
dilakukan melalui jalur laut berpengaruh terhadap perkembangan Islam di
Indonesia. Pada saat itu sudah berkembang pelabuhan-pelabuhan laut yang ada di
kawasan Asia seperti Muskat di jazirah Arab, Basra di Teluk Parsi, Cambay
(Gujarat), Chittagong di Teluk Benggala, Pasai di Pulau Sumatra dan daerah
Malaka yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Indonesia, Malaysia, dan
Filipina.
1.
Saluran perdangan
2.
Saluran perkawinan
3.
Saluran tasawuf
4.
Saluran pendidikan
5.
Saluran kesenian
6.
Saluran politik
A. PERKEMABANGAN ISLAM DI SUMATERA
Daerah
pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah Sumatra bagian
Utara seperti Pasai dan Perlak. Para pedagang dari India yakni bangsa Arab,
Persi,dan Gujarat yang juga mubalig Islam
banyak yang menetap dibandar-bandar sepanjangSumut. Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah diIslamkan,
sehingga terbentuklah keluarga-keluarga Muslim.Para mubalig Islam pada waktu
itu, tidak hanya bedakwah kepada para penduduk biasa tetapi juga kepada raja-raja kecil hingga akhirnya berdiri
kerajaan Islam pertamayaitu Samudra Pasai.
Sumatera mengawali jejak
perjalanan Islam di nusantara. Di bagian utara pulau ini pernah berdiri Kerajaan Samudera Pasai
yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh
Meurah Silu
pada tahun 1267 M. Kerajaan yang berdiri di tanah Aceh itu bahkan pernah
dikunjungi Ibnu
Batutah, pengembara muslim paling ternama sepanjang sejarah.
Kekayaan
khazanah Islam Sumatera lalu dilanjutkan dengan berdirinya kerajaan Malaka
(1402 – 1511) yang didirikan oleh Parameswara, seorang putera Sriwijaya yang
menyelamatkan diri dari perebutan Palembang oleh Majapahit. Nama Malaka
kemudian masyhur sebagai salah satu pelabuhan penting di dunia. Portugis,
Belanda dan Inggris pun merapat di sana.
Masih
di bagian Utara Sumatera berdiri Kesultanan Aceh Darussalam pada
tahun 1360 dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh). Sultan Ali Mughayat Syah dinobatan sebagai Sultan pertama
pada Ahad, 1
Jumadil Awwal 913 H bertepatan pada 8 September 1507. Selain
masyhur dengan sistem pendidikan militer yang baik, komitmennya dalam menentang
imperialisme
Eropa, sistem pemerintahan teratur dan sistematik, kesultanan Aceh
merupakan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan terutama Islam.[2]
B. KERAJAAN-KERAJAAN
ISLAM PERTAMA DI SUMATERA
a.
Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan
Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Seumawe
(sekarang pantai timur Aceh), berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Kerajaan
ini menjadi pusat penyebaran agama Islam di sekitar Sumatera dan Malaka.
Kerajaan Samudera Pasai yang mendapat julukan “Daerah Serambi Mekkah“ini
merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Pendiri sekaligus raja pertama
kerajaan ini adalah Sultan Malik Al-Saleh (1290-1297).
Kemunculannya
sebagai kerajaan islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M,
sebagai hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah
disinggahi pedagang-pedagang muslimsejak abad ke-7, ke-8 Masehi, dan
seterusnya.[3] Dari segi peta politik,
munculnya kerajaan Samudera Pasai abad ke-13 M itu sejalan dengan suramnya
peranan maritim kerajaan Sriwijaya, yang sebelumnya memegang peranan penting di
kawasan Sumatera dan sekelilingnya.[4]
Terdapat
petunjuk bahwa tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudra Pasai adalah Muara
Sungai Peusangan, sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur
pantai yang memudahkan perahu-perahu dan kapal-kapal mengayuhkan dayungnya ke
pedalaman dan sebaliknya. Ada dua kota yang terletak bersebrangan di muara
sungai Peusangan itu, Pasai dan Samudera. Kota Samudra terletak agak lebih ke
pedalaman, sedangkan kota Pasai terletak lebih kemuara.
Pendapat
bahwa Islam sudah berkembang disana sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh
berita Cina dan pendapat Ibn Batutah, seorang pengembara terkenal asal Marokko,
yang pada pertengahan abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 M) mengunjungi Samudra
Pasai dalam perjalanannya dari Delhi ke Cina. Ibnu Batutah menyatakan bahwa
islam sudah hampir satu abad lamanya di siarkan disana. Ia meriwayatkan
kesalehan, kerendahan hati, dan semangat ke agamaan rajanya yang seperti
rakyatnya, mengikuti mazhab Syafi’i. Berdasarkan beritanya pula, kerajaan
Samudra Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul
ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi masalah keagamaan dan
keduniaan.
Keterangan
Ibnu Batutah tersebut dapat di tarik kesimpulan, bahwa sistem pendidikan yang
berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut :
1.
Materi
pendidikan dan pengajaran agama di bidang syariat Fiqh mazhab Syafi’i
2.
Sistem
pendidikan secara non-formal berupa majlis taklim dan halaqah
3.
Pejabat
pemerintahan merangkap sebagai tokoh ulama
4.
Baiya
pendidikan bersumber dari negara [5]
Di
antara pejabat pemerintahan yang merupakan ulama yang alim antara lain:
1.
Sri Kaya
Ghisayuddin, sebagai Perdana Menteri
2.
Sayid Ali
al-Makrany, sebagai Syakh al-Islam
3.
Bawa Kayu
Ali Hisamuddin al-Malabary, sebagai Menteri Luar Negeri
Samudera
Pasai berada di puncak kejayaannya ketika masa pemerintahan Sultan Ahmad Bahian
Syah Malik Zahir pada tahun 727-750 H/1326-1345 M.
Sejarah
mencatat, bahwa kerajaan Samudra Pasai ini pernah mengalami kemajuan dalam
seluruh bidang kehidupan, yakni kemajuan dalam bidang perekonomian yang
berbasis pada perdagangan dan pelayaran yang memperoleh keuntungan dan pajak
yang besar, yakni sebesar 6% dari total barang yang di jual. Hal ini terjadi,
karena Samudra Pasai dilihat dari segi geografis dan sosial ekonomi, memeng
merupakan suatu daerah yang penting sebagai penghubung antara pusat-pusat
perdangan yang terdapat di kepulauan Indonesia, Cina dan Arab.
Kemajuan
dalam bidang perekonomian dan perdagangan ini di perkuat dengan adanya mata
uang dirham dari Samudra Pasai, adanya mata uang itu membuktikan bahwa kerajaan
ini pada saat itu merupakan kerajaan yang makmur. Mata uang dirham dari Samudra
Pasai tersebut pernah di teliti oleh H.K.J. Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti
sejarah Raja-raja Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama Sultan Alauddin,
Sultan Manshur Malik Al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah. Pada tahun 1973 ,
di temukan lagi 11 mata uang dirham yang di antaranya bertuliskan nama Sultan
uhammmad MalikAl-Zahir, Sultan Ahmad, Sultan Abdullah yang semuanya adalah
raja-raja Samudra Pasai pada abad ke -14 dan 15 M.
Atas
dasar mata uang emas yang di temukan itu, maka nama-nama raja Samudra Pasai dan
urutannya dapat di ketahui dengan jelas, adalah sebagai berikut:
1.
Sultan
Malik Al-Saleh yang memerintah sampai tahun 1207 M
2.
Muhammad
Malik Al-Zahir (1297-1326 M )
3.
Mahmud
Malik Al-Zahir (1326-1345 M )
4.
Manshur
Malik Al-Zahir ( 1345-1346 M )
5.
Ahmad Malik
Al-Zahir (1346-1383 M )
6.
Zain
Al-Abidin Malik Al-Zahir (1383-1405 M )
7.
Nahrasiyah
(1402-? )
8.
Abu Zaid
Malik Al-Zahir ( ?-1455 M )
9.
Mahmud
Malik Al-Zahir ( 1455-1477 M )
10.
Zain
Al-Abidin (1477-1500 M )
11.
Abdullah Malik
Al-Zahir (1501-1513 M )
12. Zain Al-Abidin (1513-1524 M )[6]
Kerajaan
Samudra Pasai ini berlangsung sampai dengan tahun 1524 M. Karena pada tahun
1521 M, kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga
tahun, dan pada tahun 1524 M, kerajaan tersebut dianeksasi oleh raja Aceh, Ali
Mughayatsyah. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai ini berada di bawah pengaruh
kesultanan Aceh yang berpusat di Banda Aceh Darussalam .[7]
b.
Kerajaan
Aceh Darussalam
Kerajaan
Aceh Darussalam didirikan di atas puing-puing kerajaan Lamuri pada abad ke-15
M. Oleh Mudzaffar Syah ( 1465-1497 M ). Sebuah sumber lain menyebutkan, bahwa
kerajaan Aceh Darussalam merupakan penyatuan dari dua karajaan kecil, yaitu
Lamuri dan Aceh Dar al-Kamal dengan rajanya yang pertama Ali Mughayatsyah.
Pertumbuhan
kerajaan Aceh disebabkan kemajuan perdaganganpada permulaan abad ke-15 M. Jalan
dagang yang sebelumnya dari laut Jawa ke utara melalaui selat karimata terus ke
Makala, pindah melalui Selat Sunda dan menyusur pantai Barat Sumatra, terus ke
Aceh. Dengan demikian, Aceh menjadi ramai dikunjungi oleh para saudagar dari
berbagai negeri.
Ali
mughayatssyah meluaskan wilayah kekuasaannya ke daerah Pidie yang bekerjasama
dengan Portugis, kemudian ke Pasai pada tahun 1524 M. Dengan kemenangannya
terhadap dua kerajaan trsebut, Aceh dengan mudah melebarkan sayap kekuasaannya
ke Sumatera Timur. Untuk mengatur daerah Sumatera Timur, raja Aceh mengirim
panglima-panglimanya, salah seorang diantaranya adalah Gocah, pahlawan yang
menurunkan sultan-sultan Deli dan Serdang.[8]
Peletak
dasar kebesaran kerajaan Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah yang bergelar
Al-Qahar. Dalam menghadapi bala tentara Portugis ia menjalin hubungan
persahabatan dengan kerajaan Usmani di Turki dan negara-negara Islam yang lain
di Indonesia.
Puncak
kebesaran Aceh terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda ( 1608-1637 ). Pada
masanya Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir Timur dan Barat Sumatera.
Dari Aceh, Tanah Gayo yang berbatasan diislamkan, juga Minangkabau. Hanya
orang-orang kafir Batak yang berusaha menangkis kekuatan-kekuatan Islam yang
datang, bahkan mereka melangkah begitu jauh sampai minta bantuan Portugis.[9]
Untuk mengalahkan Portugis, Sultan kemudian bekerjasama dengan musuh Portugis,
yaitu Belanda dan Inggris.
Kepopuleran
Iskandar Muda dapat di lihat dari nama-nama yang dipakai yaitu Dharma Wangsa,
Perkasa Alam, Johan Berdaulat, sedangkan sesudah wafat disebut Marhum Mahkota
Alam.[10]
Pada zaman kebesaran Aceh terkenal empat ulama besar, yaitu Hamzah Fansuri,
Symsuddin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan Abd. Rauf Singkel.
Setelah
Iskandar Muda wafat digantikan oleh Sultan
Iskandar Thani. Tata pemerintahan Aceh diatur dalam undang-undang yang
disebut Adat Mahkota Alam. Berdasarkan tata pemerintahan tersebut, wilayah
Acehdibagi dalam wilayah sagi dan wilayah pusat kerajaan. Setiap sagi terdiri
dari sejumlah mukmin dan dikepalai oleh panglima sagi yang disebut hulubalang
besar.
Masyarakat
Aceh dikelompokkan dalam golongan Teuku, yakni golongan masyarakat bangsawan,
dan golongan Tengku, yakni golongan agama. Penghasilan Kerajaan Aceh didapat
dari penarikan pajak dan cukai yang terdiri dari beberapa macam antara lain
pajak pasar dan cukai intan. Dalam bidang sastra, Aceh banyak melahirkan
tokoh-tokoh, antara lain Syamsuddin Pasai, Hamzah Fansyuri, Nuruddin ar-Raniri,
dan Abdul al-Rauf. Nuruddin ar-Raniri mengarang Bustanus Salatin (taman
raja-raja dan adat istiadat Aceh serta ajaran Islam). Abdul al-Rauf dari
Singkel (Syeikh Kuala) membuat tafsir Alquran dalam bahasa Melayu. Ia menentang
aliran heterodoks (makhluk yang diciptakan sebagai
penampilan
dari penciptanya). Aliran yang dianutnya adalah aliran ortodoks, yakni Allah pencipta
dan makhluk ciptaan-Nya tidak dapat mengetahui keadaan-Nya.
Pada
masanya, Aceh terus berkembang untuk masa beberapa tahun. Pengetahuan agama
maju dengan pesat. Akan tetapi, kematiannya diikuti oleh masa-masa bencana. Tak
kala beberapa sultan perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699,
beberapa wilayah taklukannya, lepas dan kesultanan menjadi terpecah belah.
Setelah itu, pemulihan kembali kesultanan tidak banyak bermanfaat, sehingga
menjelang abad ke-18 M kesultanan Aceh merupakan bayangan-bayangan belaka dari
masa silam dirinya, tanpa kepemimpinan dan kacau balau.[11]
Menurut
H. J. De Graaf, Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi bagian dari
wilayah Aceh dan pergantian agama di perkirakan terjadi mendekati pertengahan
abad ke-14.[12]
Sedangkan
sistem pendidikan di kerajaan Aceh di kembangkan pada lembaga pendidikan antara
lain
1.
Balai seutia hukama
2.
Balai seutia ulama
3.
Balai jama’ah himpunan
ulama
Adapun
jenjang pendidikan yang ada menurut Hasbullah adalah sebagai berikut
1.
Meunasah (Madrasah)
2.
Rangkang
3.
Dayah
4.
Dayah teuku cik
c.
Kerajaan siak (Riau)
Di
perkirakan islam masuk ke kerajaan siak pada abad ke-12 M.Ini dapat di lihat
pada peninggalan kuburan bertahun 1128 M yang bercorak islam,yaitu kuburan Nizamuddin
al-Kamil seorang laksamana dari daulah Fatimiyah.
Adapun
tentang 4 penyiar islam dari negri arab yang turun ke negri bawah angin, mereka
adalah:
1.
Sayid Abdullah al-Kudsi
2.
Sayid Usman Ibn
Syahabudin
3.
Sayid Muhammad Ibn
Ahmad al-Aydrus
4.
Sayid Husi Ibn al-Gadri
d.
Kerajaan Minangkabau(Sumatra
Barat)
Agama
islam dengan cepat dan pesat masuk ke daerah pesisir sumatra barat ini,terutama
di kota-kota pelabuhan yang penting sperti
Pairaman,Tiku,Padang,Indrapura,Painan,Salido,dan lain-lain.[13]
Pada
abad ke-17 islam sudah merata tersebar di Minangkabau bahkan rajanya pun sudah
memeluk agama islam yaitu raja Alam Alif.[14]Setelah
berdirinya kerajaan islam di Minangkabau ini maka hukuman yang berlaku,yaitu
hukuman adat dan hukuman syara,’yaitu setelah terjadi penyesuaian antara hukum
adat dan hukum islam.Penyesuaian itu dikukuhkan dalam Traktak Marapalam
yaitu”Adat Basandi Syara”,Syara’Basandi Kitabullah,”Keberadaan Surau sebagai
tempat mengaji dan belajar pengetahuan agama tidak hanya dalam wilayah suku
yang sempit,tapi juga dalam wilayah teritorial Nagari yang lebih luas,disebut
Surau Nagari.[15]Pengaruh Surau di
tengah-tengah masyarakat tidak hanya di tentukan oleh jumlah murid saja,namun
yang paling menonjol adalah kharisman dan Syekh.Merupakan titik sentral
keberlangsungan sebuah Surau. Surau tidak hanya di dirikan sebagai sebuah
lembaga pendidikan islam saja,tapi juga sebagai titk sentral bangi keseluruhan
islamisasi di Minangkabau.
e.
Kerajaan
Sriwijaya(Sumatra Selatan)
Islam
masuk ke bumi Sriwijaya pada abad ke-7.Karena Sriwijaya sering di kunjungi pada
pedagang arab pada jalur pelayaran,maka islam saat itu merupakan proses awal
islamisasi atau permulaan perkenalan masyiarakat dengan islam.China di jaman
dinasti T’ang tersebut telah ada kampung arab muslim di pantai Barat Sumatra
pada tahun 674 M.[16]
Menurut
Tufik Abdullah,[17]Raden Patah yang menurut
tradisi historis,adalah anak raja Majapahit,yang bernama Brawijaya kawin dengan
putri china yang di lahirkan dan berguru di Palembang.
Para ulama yang terkenal di kerajaan Sriwijaya
di antaranya :
1.
Syarif Abu
Bakar
2.
Sayyid
Jamaluddin
3.
Di samping
itu ada pula ulama-ulama di jaman ke sultanan,di antaranya :
Kyai Haji Kemas Abd al-Shamad(K.H.K, Abd al-Shamad al-Falimbani)
Kyai Haji Masagus Abdul Hamid Ibn Masagur Muhammad(Kyai Maragon)
Ada
tiga ulama yang berpengaruh di daerah Komering Ulu dan Komering Ilir yaitu :
1.
Tuan Umar
Baginda Saleh/Said Umar Baginda Sari/Raden Amar/Ratu Pamembahan
2.
Tuan Tnjung
Darus(Idrus)Salam
3.
Tuan di
Pulau/Said Hanim al-Hamiem.
Ketiga
ulama di kenal sebagai waliyullah pembawa agama islam.[18]
C. BUKTI
MASUKNYA ISLAM KE SUMATERA
Bukti awal
mengenai agama Islam berasal dari seorang pengelana Venesia bernama Marco polo. Ketika singgah di sebelah utara pulau Sumatera, dia menemukan sebuah kota Islam bernama Perlakyang
dikelilingi oleh daerah-daerah non-Islam. Hal ini diperkuat oleh
catatan-catatan yang terdapat dalam buku-buku sejarah seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.
Bukti kedua
berasal dari Ibnu Batutah ketika mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345
megatakan bahwa raja yang memerintah negara itu memakai gelar Islam yakni Malikut Thahbir bin Malik Al Saleh.
Bukti ketiga
berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Tome Pires, yang mengunjungi Nusantara pada awal abad ke-16. Dalam karyanya berjudul Summa Oriental, dia menjelaskan bahwa menjelang abad ke-13 sudah ada masyarakat Muslim di Samudera
Pasai, Perlak, dan Palembang. Selain itu di Pulau Jawa juga ditemukan makam Fatimah binti
Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 1082 M dan sejumlah makam Islam
di Tralaya yang berasal dari abad ke-13.
Bukti keempat
menurut catatan Dinasti Tang, para pedagang Ta-Shih(sebutan
bagi kaum Muslim Arab dan Persia) pada abad ke-9 dan ke-10 sudah ada di Kanton dan Sumatera.
[1]Badri Yatim,” Sejarah Peradaban Islam”,(Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2010, hlm 201
[2] Google, http://pingnet-krt.blogspot.com/2011/01/sejarah-islam-di-indonesia-sumatera.html
[3] Badri Yatim, op. Cit, hlm. 205.
[4] Ibid., hlm. 206
[5] Prof.DR. H. Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam
Mulia, 2012), hlm.222.
[6] Prof. Dr. H. Abudin Natta, M.A, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta:
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, 2010), hlm.160.
[7] Ibid., hlm.160.
[8] Dr. Badri Yatim, op cit,. Hlm.209
[9] Ibid., hlm. 210
[10] Prof. Dr. Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 25.
[11]Dr. Badri Yatim, M.A, op. Cit., hlm. 210
[12] Ibid., hlm. 209.
[13] Prof.DR.H.Ramayulis,op.cit;hlm.227.
[14] Ibid ;hlm.227.
[15] Ibid ;hlm 228.
[16] Ibid ;hlm 229.
[17] Ibid ;hlm 229.
[18] Ibid ;hlm 230.
MASUKNYA
ISLAM DI INDONESIA
Banyak
teori yang memperkirakan masuknya islam di Indonesia, dari sekian pendapat,
maka banyak menetapkan islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7, di bawa oleh
saudagar-saudagar Iskam yang juga bertugas sebagai da’i dan di bawa langsung
dari tanah Arab.
Seminar
masuknya islam ke indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963 sebagai berikut :
a.
Bahwa menurur
sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya masuk ke indonesia
pada abad pertama Hijriah (abad ke 7/8 Masehi), dan langsung dari Arab.
b.
Bahwa daerah yang
pertama didatangi oleh islam ialah Pesisisr Sumatra, dan bahwa setelah
terbentuknya masyarakat Islam, maka Raja Islam yang pertama di Aceh.
c.
Bahwa dalam proses
pengislaman selanjutnya orang Indonesia ikut aktif mengambil bagian.
d.
Bahwa Mubaligh-Mubaligh
Islam yang mula-mula itu selain sebagian penyiar agama juga sebagai saudagar.
e.
Bahwa penyiaran Islam
di Indonesia itu di lakukan dengan cara
damai.
f.
Bahwa kedatangan Islam
ke Indonesia itu membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk
kepribadian bangsa Indonesia.
Jika ditarik benang merahnya, terdapat beberapa saluran dalam
proses masuknya
Islam ke Indonesia, di antaranya sebagai berikut.
a.
Jalur
Darat; Para pedagang Islam melintasi jazirah Arab dan menjelajah daerah Barat ke Gurun Sahara dan Afrika Tengah, sedangkan
jalan Timur melalui Bashra, Bagdad, Damaskus, Samarkand, Bukhara, dan kota-kota
di Asia Tengah terus ke daratan Cina. Jalur ini disebut jalan sutra karena pada
saat itu yang menjadi komoditas utama dalam kegiatan perdagangan adalah berupa
sutra, terutama yang berasal dari Cina.
b.
Jalur Laut;
Perdagangan yang dilakukan melalui jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara yang
dilakukan melalui jalur laut berpengaruh terhadap perkembangan Islam di
Indonesia. Pada saat itu sudah berkembang pelabuhan-pelabuhan laut yang ada di
kawasan Asia seperti Muskat di jazirah Arab, Basra di Teluk Parsi, Cambay
(Gujarat), Chittagong di Teluk Benggala, Pasai di Pulau Sumatra dan daerah
Malaka yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Indonesia, Malaysia, dan
Filipina.
1.
Saluran perdangan
2.
Saluran perkawinan
3.
Saluran tasawuf
4.
Saluran pendidikan
5.
Saluran kesenian
6.
Saluran politik
A. PERKEMABANGAN ISLAM DI SUMATERA
Daerah
pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah Sumatra bagian
Utara seperti Pasai dan Perlak. Para pedagang dari India yakni bangsa Arab,
Persi,dan Gujarat yang juga mubalig Islam
banyak yang menetap dibandar-bandar sepanjangSumut. Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah diIslamkan,
sehingga terbentuklah keluarga-keluarga Muslim.Para mubalig Islam pada waktu
itu, tidak hanya bedakwah kepada para penduduk biasa tetapi juga kepada raja-raja kecil hingga akhirnya berdiri
kerajaan Islam pertamayaitu Samudra Pasai.
Sumatera mengawali jejak
perjalanan Islam di nusantara. Di bagian utara pulau ini pernah berdiri Kerajaan Samudera Pasai
yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh
Meurah Silu
pada tahun 1267 M. Kerajaan yang berdiri di tanah Aceh itu bahkan pernah
dikunjungi Ibnu
Batutah, pengembara muslim paling ternama sepanjang sejarah.
Kekayaan
khazanah Islam Sumatera lalu dilanjutkan dengan berdirinya kerajaan Malaka
(1402 – 1511) yang didirikan oleh Parameswara, seorang putera Sriwijaya yang
menyelamatkan diri dari perebutan Palembang oleh Majapahit. Nama Malaka
kemudian masyhur sebagai salah satu pelabuhan penting di dunia. Portugis,
Belanda dan Inggris pun merapat di sana.
Masih
di bagian Utara Sumatera berdiri Kesultanan Aceh Darussalam pada
tahun 1360 dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh). Sultan Ali Mughayat Syah dinobatan sebagai Sultan pertama
pada Ahad, 1
Jumadil Awwal 913 H bertepatan pada 8 September 1507. Selain
masyhur dengan sistem pendidikan militer yang baik, komitmennya dalam menentang
imperialisme
Eropa, sistem pemerintahan teratur dan sistematik, kesultanan Aceh
merupakan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan terutama Islam.[2]
B. KERAJAAN-KERAJAAN
ISLAM PERTAMA DI SUMATERA
a.
Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan
Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Seumawe
(sekarang pantai timur Aceh), berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Kerajaan
ini menjadi pusat penyebaran agama Islam di sekitar Sumatera dan Malaka.
Kerajaan Samudera Pasai yang mendapat julukan “Daerah Serambi Mekkah“ini
merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Pendiri sekaligus raja pertama
kerajaan ini adalah Sultan Malik Al-Saleh (1290-1297).
Kemunculannya
sebagai kerajaan islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M,
sebagai hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah
disinggahi pedagang-pedagang muslimsejak abad ke-7, ke-8 Masehi, dan
seterusnya.[3] Dari segi peta politik,
munculnya kerajaan Samudera Pasai abad ke-13 M itu sejalan dengan suramnya
peranan maritim kerajaan Sriwijaya, yang sebelumnya memegang peranan penting di
kawasan Sumatera dan sekelilingnya.[4]
Terdapat
petunjuk bahwa tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudra Pasai adalah Muara
Sungai Peusangan, sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur
pantai yang memudahkan perahu-perahu dan kapal-kapal mengayuhkan dayungnya ke
pedalaman dan sebaliknya. Ada dua kota yang terletak bersebrangan di muara
sungai Peusangan itu, Pasai dan Samudera. Kota Samudra terletak agak lebih ke
pedalaman, sedangkan kota Pasai terletak lebih kemuara.
Pendapat
bahwa Islam sudah berkembang disana sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh
berita Cina dan pendapat Ibn Batutah, seorang pengembara terkenal asal Marokko,
yang pada pertengahan abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 M) mengunjungi Samudra
Pasai dalam perjalanannya dari Delhi ke Cina. Ibnu Batutah menyatakan bahwa
islam sudah hampir satu abad lamanya di siarkan disana. Ia meriwayatkan
kesalehan, kerendahan hati, dan semangat ke agamaan rajanya yang seperti
rakyatnya, mengikuti mazhab Syafi’i. Berdasarkan beritanya pula, kerajaan
Samudra Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul
ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi masalah keagamaan dan
keduniaan.
Keterangan
Ibnu Batutah tersebut dapat di tarik kesimpulan, bahwa sistem pendidikan yang
berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut :
1.
Materi
pendidikan dan pengajaran agama di bidang syariat Fiqh mazhab Syafi’i
2.
Sistem
pendidikan secara non-formal berupa majlis taklim dan halaqah
3.
Pejabat
pemerintahan merangkap sebagai tokoh ulama
4.
Baiya
pendidikan bersumber dari negara [5]
Di
antara pejabat pemerintahan yang merupakan ulama yang alim antara lain:
1.
Sri Kaya
Ghisayuddin, sebagai Perdana Menteri
2.
Sayid Ali
al-Makrany, sebagai Syakh al-Islam
3.
Bawa Kayu
Ali Hisamuddin al-Malabary, sebagai Menteri Luar Negeri
Samudera
Pasai berada di puncak kejayaannya ketika masa pemerintahan Sultan Ahmad Bahian
Syah Malik Zahir pada tahun 727-750 H/1326-1345 M.
Sejarah
mencatat, bahwa kerajaan Samudra Pasai ini pernah mengalami kemajuan dalam
seluruh bidang kehidupan, yakni kemajuan dalam bidang perekonomian yang
berbasis pada perdagangan dan pelayaran yang memperoleh keuntungan dan pajak
yang besar, yakni sebesar 6% dari total barang yang di jual. Hal ini terjadi,
karena Samudra Pasai dilihat dari segi geografis dan sosial ekonomi, memeng
merupakan suatu daerah yang penting sebagai penghubung antara pusat-pusat
perdangan yang terdapat di kepulauan Indonesia, Cina dan Arab.
Kemajuan
dalam bidang perekonomian dan perdagangan ini di perkuat dengan adanya mata
uang dirham dari Samudra Pasai, adanya mata uang itu membuktikan bahwa kerajaan
ini pada saat itu merupakan kerajaan yang makmur. Mata uang dirham dari Samudra
Pasai tersebut pernah di teliti oleh H.K.J. Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti
sejarah Raja-raja Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama Sultan Alauddin,
Sultan Manshur Malik Al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah. Pada tahun 1973 ,
di temukan lagi 11 mata uang dirham yang di antaranya bertuliskan nama Sultan
uhammmad MalikAl-Zahir, Sultan Ahmad, Sultan Abdullah yang semuanya adalah
raja-raja Samudra Pasai pada abad ke -14 dan 15 M.
Atas
dasar mata uang emas yang di temukan itu, maka nama-nama raja Samudra Pasai dan
urutannya dapat di ketahui dengan jelas, adalah sebagai berikut:
1.
Sultan
Malik Al-Saleh yang memerintah sampai tahun 1207 M
2.
Muhammad
Malik Al-Zahir (1297-1326 M )
3.
Mahmud
Malik Al-Zahir (1326-1345 M )
4.
Manshur
Malik Al-Zahir ( 1345-1346 M )
5.
Ahmad Malik
Al-Zahir (1346-1383 M )
6.
Zain
Al-Abidin Malik Al-Zahir (1383-1405 M )
7.
Nahrasiyah
(1402-? )
8.
Abu Zaid
Malik Al-Zahir ( ?-1455 M )
9.
Mahmud
Malik Al-Zahir ( 1455-1477 M )
10.
Zain
Al-Abidin (1477-1500 M )
11.
Abdullah Malik
Al-Zahir (1501-1513 M )
12. Zain Al-Abidin (1513-1524 M )[6]
Kerajaan
Samudra Pasai ini berlangsung sampai dengan tahun 1524 M. Karena pada tahun
1521 M, kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga
tahun, dan pada tahun 1524 M, kerajaan tersebut dianeksasi oleh raja Aceh, Ali
Mughayatsyah. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai ini berada di bawah pengaruh
kesultanan Aceh yang berpusat di Banda Aceh Darussalam .[7]
b.
Kerajaan
Aceh Darussalam
Kerajaan
Aceh Darussalam didirikan di atas puing-puing kerajaan Lamuri pada abad ke-15
M. Oleh Mudzaffar Syah ( 1465-1497 M ). Sebuah sumber lain menyebutkan, bahwa
kerajaan Aceh Darussalam merupakan penyatuan dari dua karajaan kecil, yaitu
Lamuri dan Aceh Dar al-Kamal dengan rajanya yang pertama Ali Mughayatsyah.
Pertumbuhan
kerajaan Aceh disebabkan kemajuan perdaganganpada permulaan abad ke-15 M. Jalan
dagang yang sebelumnya dari laut Jawa ke utara melalaui selat karimata terus ke
Makala, pindah melalui Selat Sunda dan menyusur pantai Barat Sumatra, terus ke
Aceh. Dengan demikian, Aceh menjadi ramai dikunjungi oleh para saudagar dari
berbagai negeri.
Ali
mughayatssyah meluaskan wilayah kekuasaannya ke daerah Pidie yang bekerjasama
dengan Portugis, kemudian ke Pasai pada tahun 1524 M. Dengan kemenangannya
terhadap dua kerajaan trsebut, Aceh dengan mudah melebarkan sayap kekuasaannya
ke Sumatera Timur. Untuk mengatur daerah Sumatera Timur, raja Aceh mengirim
panglima-panglimanya, salah seorang diantaranya adalah Gocah, pahlawan yang
menurunkan sultan-sultan Deli dan Serdang.[8]
Peletak
dasar kebesaran kerajaan Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah yang bergelar
Al-Qahar. Dalam menghadapi bala tentara Portugis ia menjalin hubungan
persahabatan dengan kerajaan Usmani di Turki dan negara-negara Islam yang lain
di Indonesia.
Puncak
kebesaran Aceh terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda ( 1608-1637 ). Pada
masanya Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir Timur dan Barat Sumatera.
Dari Aceh, Tanah Gayo yang berbatasan diislamkan, juga Minangkabau. Hanya
orang-orang kafir Batak yang berusaha menangkis kekuatan-kekuatan Islam yang
datang, bahkan mereka melangkah begitu jauh sampai minta bantuan Portugis.[9]
Untuk mengalahkan Portugis, Sultan kemudian bekerjasama dengan musuh Portugis,
yaitu Belanda dan Inggris.
Kepopuleran
Iskandar Muda dapat di lihat dari nama-nama yang dipakai yaitu Dharma Wangsa,
Perkasa Alam, Johan Berdaulat, sedangkan sesudah wafat disebut Marhum Mahkota
Alam.[10]
Pada zaman kebesaran Aceh terkenal empat ulama besar, yaitu Hamzah Fansuri,
Symsuddin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan Abd. Rauf Singkel.
Setelah
Iskandar Muda wafat digantikan oleh Sultan
Iskandar Thani. Tata pemerintahan Aceh diatur dalam undang-undang yang
disebut Adat Mahkota Alam. Berdasarkan tata pemerintahan tersebut, wilayah
Acehdibagi dalam wilayah sagi dan wilayah pusat kerajaan. Setiap sagi terdiri
dari sejumlah mukmin dan dikepalai oleh panglima sagi yang disebut hulubalang
besar.
Masyarakat
Aceh dikelompokkan dalam golongan Teuku, yakni golongan masyarakat bangsawan,
dan golongan Tengku, yakni golongan agama. Penghasilan Kerajaan Aceh didapat
dari penarikan pajak dan cukai yang terdiri dari beberapa macam antara lain
pajak pasar dan cukai intan. Dalam bidang sastra, Aceh banyak melahirkan
tokoh-tokoh, antara lain Syamsuddin Pasai, Hamzah Fansyuri, Nuruddin ar-Raniri,
dan Abdul al-Rauf. Nuruddin ar-Raniri mengarang Bustanus Salatin (taman
raja-raja dan adat istiadat Aceh serta ajaran Islam). Abdul al-Rauf dari
Singkel (Syeikh Kuala) membuat tafsir Alquran dalam bahasa Melayu. Ia menentang
aliran heterodoks (makhluk yang diciptakan sebagai
penampilan
dari penciptanya). Aliran yang dianutnya adalah aliran ortodoks, yakni Allah pencipta
dan makhluk ciptaan-Nya tidak dapat mengetahui keadaan-Nya.
Pada
masanya, Aceh terus berkembang untuk masa beberapa tahun. Pengetahuan agama
maju dengan pesat. Akan tetapi, kematiannya diikuti oleh masa-masa bencana. Tak
kala beberapa sultan perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699,
beberapa wilayah taklukannya, lepas dan kesultanan menjadi terpecah belah.
Setelah itu, pemulihan kembali kesultanan tidak banyak bermanfaat, sehingga
menjelang abad ke-18 M kesultanan Aceh merupakan bayangan-bayangan belaka dari
masa silam dirinya, tanpa kepemimpinan dan kacau balau.[11]
Menurut
H. J. De Graaf, Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi bagian dari
wilayah Aceh dan pergantian agama di perkirakan terjadi mendekati pertengahan
abad ke-14.[12]
Sedangkan
sistem pendidikan di kerajaan Aceh di kembangkan pada lembaga pendidikan antara
lain
1.
Balai seutia hukama
2.
Balai seutia ulama
3.
Balai jama’ah himpunan
ulama
Adapun
jenjang pendidikan yang ada menurut Hasbullah adalah sebagai berikut
1.
Meunasah (Madrasah)
2.
Rangkang
3.
Dayah
4.
Dayah teuku cik
c.
Kerajaan siak (Riau)
Di
perkirakan islam masuk ke kerajaan siak pada abad ke-12 M.Ini dapat di lihat
pada peninggalan kuburan bertahun 1128 M yang bercorak islam,yaitu kuburan Nizamuddin
al-Kamil seorang laksamana dari daulah Fatimiyah.
Adapun
tentang 4 penyiar islam dari negri arab yang turun ke negri bawah angin, mereka
adalah:
1.
Sayid Abdullah al-Kudsi
2.
Sayid Usman Ibn
Syahabudin
3.
Sayid Muhammad Ibn
Ahmad al-Aydrus
4.
Sayid Husi Ibn al-Gadri
d.
Kerajaan Minangkabau(Sumatra
Barat)
Agama
islam dengan cepat dan pesat masuk ke daerah pesisir sumatra barat ini,terutama
di kota-kota pelabuhan yang penting sperti
Pairaman,Tiku,Padang,Indrapura,Painan,Salido,dan lain-lain.[13]
Pada
abad ke-17 islam sudah merata tersebar di Minangkabau bahkan rajanya pun sudah
memeluk agama islam yaitu raja Alam Alif.[14]Setelah
berdirinya kerajaan islam di Minangkabau ini maka hukuman yang berlaku,yaitu
hukuman adat dan hukuman syara,’yaitu setelah terjadi penyesuaian antara hukum
adat dan hukum islam.Penyesuaian itu dikukuhkan dalam Traktak Marapalam
yaitu”Adat Basandi Syara”,Syara’Basandi Kitabullah,”Keberadaan Surau sebagai
tempat mengaji dan belajar pengetahuan agama tidak hanya dalam wilayah suku
yang sempit,tapi juga dalam wilayah teritorial Nagari yang lebih luas,disebut
Surau Nagari.[15]Pengaruh Surau di
tengah-tengah masyarakat tidak hanya di tentukan oleh jumlah murid saja,namun
yang paling menonjol adalah kharisman dan Syekh.Merupakan titik sentral
keberlangsungan sebuah Surau. Surau tidak hanya di dirikan sebagai sebuah
lembaga pendidikan islam saja,tapi juga sebagai titk sentral bangi keseluruhan
islamisasi di Minangkabau.
e.
Kerajaan
Sriwijaya(Sumatra Selatan)
Islam
masuk ke bumi Sriwijaya pada abad ke-7.Karena Sriwijaya sering di kunjungi pada
pedagang arab pada jalur pelayaran,maka islam saat itu merupakan proses awal
islamisasi atau permulaan perkenalan masyiarakat dengan islam.China di jaman
dinasti T’ang tersebut telah ada kampung arab muslim di pantai Barat Sumatra
pada tahun 674 M.[16]
Menurut
Tufik Abdullah,[17]Raden Patah yang menurut
tradisi historis,adalah anak raja Majapahit,yang bernama Brawijaya kawin dengan
putri china yang di lahirkan dan berguru di Palembang.
Para ulama yang terkenal di kerajaan Sriwijaya
di antaranya :
1.
Syarif Abu
Bakar
2.
Sayyid
Jamaluddin
3.
Di samping
itu ada pula ulama-ulama di jaman ke sultanan,di antaranya :
Kyai Haji Kemas Abd al-Shamad(K.H.K, Abd al-Shamad al-Falimbani)
Kyai Haji Masagus Abdul Hamid Ibn Masagur Muhammad(Kyai Maragon)
Ada
tiga ulama yang berpengaruh di daerah Komering Ulu dan Komering Ilir yaitu :
1.
Tuan Umar
Baginda Saleh/Said Umar Baginda Sari/Raden Amar/Ratu Pamembahan
2.
Tuan Tnjung
Darus(Idrus)Salam
3.
Tuan di
Pulau/Said Hanim al-Hamiem.
Ketiga
ulama di kenal sebagai waliyullah pembawa agama islam.[18]
C. BUKTI
MASUKNYA ISLAM KE SUMATERA
Bukti awal
mengenai agama Islam berasal dari seorang pengelana Venesia bernama Marco polo. Ketika singgah di sebelah utara pulau Sumatera, dia menemukan sebuah kota Islam bernama Perlakyang
dikelilingi oleh daerah-daerah non-Islam. Hal ini diperkuat oleh
catatan-catatan yang terdapat dalam buku-buku sejarah seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.
Bukti kedua
berasal dari Ibnu Batutah ketika mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345
megatakan bahwa raja yang memerintah negara itu memakai gelar Islam yakni Malikut Thahbir bin Malik Al Saleh.
Bukti ketiga
berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Tome Pires, yang mengunjungi Nusantara pada awal abad ke-16. Dalam karyanya berjudul Summa Oriental, dia menjelaskan bahwa menjelang abad ke-13 sudah ada masyarakat Muslim di Samudera
Pasai, Perlak, dan Palembang. Selain itu di Pulau Jawa juga ditemukan makam Fatimah binti
Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 1082 M dan sejumlah makam Islam
di Tralaya yang berasal dari abad ke-13.
Bukti keempat
menurut catatan Dinasti Tang, para pedagang Ta-Shih(sebutan
bagi kaum Muslim Arab dan Persia) pada abad ke-9 dan ke-10 sudah ada di Kanton dan Sumatera.
[1]Badri Yatim,” Sejarah Peradaban Islam”,(Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2010, hlm 201
[2] Google, http://pingnet-krt.blogspot.com/2011/01/sejarah-islam-di-indonesia-sumatera.html
[3] Badri Yatim, op. Cit, hlm. 205.
[4] Ibid., hlm. 206
[5] Prof.DR. H. Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam
Mulia, 2012), hlm.222.
[6] Prof. Dr. H. Abudin Natta, M.A, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta:
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, 2010), hlm.160.
[7] Ibid., hlm.160.
[8] Dr. Badri Yatim, op cit,. Hlm.209
[9] Ibid., hlm. 210
[10] Prof. Dr. Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 25.
[11]Dr. Badri Yatim, M.A, op. Cit., hlm. 210
[12] Ibid., hlm. 209.
[13] Prof.DR.H.Ramayulis,op.cit;hlm.227.
[14] Ibid ;hlm.227.
[15] Ibid ;hlm 228.
[16] Ibid ;hlm 229.
[17] Ibid ;hlm 229.
[18] Ibid ;hlm 230.
MASUKNYA
ISLAM DI INDONESIA
Banyak
teori yang memperkirakan masuknya islam di Indonesia, dari sekian pendapat,
maka banyak menetapkan islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7, di bawa oleh
saudagar-saudagar Iskam yang juga bertugas sebagai da’i dan di bawa langsung
dari tanah Arab.
Seminar
masuknya islam ke indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963 sebagai berikut :
a.
Bahwa menurur
sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya masuk ke indonesia
pada abad pertama Hijriah (abad ke 7/8 Masehi), dan langsung dari Arab.
b.
Bahwa daerah yang
pertama didatangi oleh islam ialah Pesisisr Sumatra, dan bahwa setelah
terbentuknya masyarakat Islam, maka Raja Islam yang pertama di Aceh.
c.
Bahwa dalam proses
pengislaman selanjutnya orang Indonesia ikut aktif mengambil bagian.
d.
Bahwa Mubaligh-Mubaligh
Islam yang mula-mula itu selain sebagian penyiar agama juga sebagai saudagar.
e.
Bahwa penyiaran Islam
di Indonesia itu di lakukan dengan cara
damai.
f.
Bahwa kedatangan Islam
ke Indonesia itu membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk
kepribadian bangsa Indonesia.
Jika ditarik benang merahnya, terdapat beberapa saluran dalam
proses masuknya
Islam ke Indonesia, di antaranya sebagai berikut.
a.
Jalur
Darat; Para pedagang Islam melintasi jazirah Arab dan menjelajah daerah Barat ke Gurun Sahara dan Afrika Tengah, sedangkan
jalan Timur melalui Bashra, Bagdad, Damaskus, Samarkand, Bukhara, dan kota-kota
di Asia Tengah terus ke daratan Cina. Jalur ini disebut jalan sutra karena pada
saat itu yang menjadi komoditas utama dalam kegiatan perdagangan adalah berupa
sutra, terutama yang berasal dari Cina.
b.
Jalur Laut;
Perdagangan yang dilakukan melalui jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara yang
dilakukan melalui jalur laut berpengaruh terhadap perkembangan Islam di
Indonesia. Pada saat itu sudah berkembang pelabuhan-pelabuhan laut yang ada di
kawasan Asia seperti Muskat di jazirah Arab, Basra di Teluk Parsi, Cambay
(Gujarat), Chittagong di Teluk Benggala, Pasai di Pulau Sumatra dan daerah
Malaka yang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Indonesia, Malaysia, dan
Filipina.
1.
Saluran perdangan
2.
Saluran perkawinan
3.
Saluran tasawuf
4.
Saluran pendidikan
5.
Saluran kesenian
6.
Saluran politik
A. PERKEMABANGAN ISLAM DI SUMATERA
Daerah
pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah Sumatra bagian
Utara seperti Pasai dan Perlak. Para pedagang dari India yakni bangsa Arab,
Persi,dan Gujarat yang juga mubalig Islam
banyak yang menetap dibandar-bandar sepanjangSumut. Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah diIslamkan,
sehingga terbentuklah keluarga-keluarga Muslim.Para mubalig Islam pada waktu
itu, tidak hanya bedakwah kepada para penduduk biasa tetapi juga kepada raja-raja kecil hingga akhirnya berdiri
kerajaan Islam pertamayaitu Samudra Pasai.
Sumatera mengawali jejak
perjalanan Islam di nusantara. Di bagian utara pulau ini pernah berdiri Kerajaan Samudera Pasai
yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh
Meurah Silu
pada tahun 1267 M. Kerajaan yang berdiri di tanah Aceh itu bahkan pernah
dikunjungi Ibnu
Batutah, pengembara muslim paling ternama sepanjang sejarah.
Kekayaan
khazanah Islam Sumatera lalu dilanjutkan dengan berdirinya kerajaan Malaka
(1402 – 1511) yang didirikan oleh Parameswara, seorang putera Sriwijaya yang
menyelamatkan diri dari perebutan Palembang oleh Majapahit. Nama Malaka
kemudian masyhur sebagai salah satu pelabuhan penting di dunia. Portugis,
Belanda dan Inggris pun merapat di sana.
Masih
di bagian Utara Sumatera berdiri Kesultanan Aceh Darussalam pada
tahun 1360 dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh). Sultan Ali Mughayat Syah dinobatan sebagai Sultan pertama
pada Ahad, 1
Jumadil Awwal 913 H bertepatan pada 8 September 1507. Selain
masyhur dengan sistem pendidikan militer yang baik, komitmennya dalam menentang
imperialisme
Eropa, sistem pemerintahan teratur dan sistematik, kesultanan Aceh
merupakan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan terutama Islam.[2]
B. KERAJAAN-KERAJAAN
ISLAM PERTAMA DI SUMATERA
a.
Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan
Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Seumawe
(sekarang pantai timur Aceh), berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Kerajaan
ini menjadi pusat penyebaran agama Islam di sekitar Sumatera dan Malaka.
Kerajaan Samudera Pasai yang mendapat julukan “Daerah Serambi Mekkah“ini
merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Pendiri sekaligus raja pertama
kerajaan ini adalah Sultan Malik Al-Saleh (1290-1297).
Kemunculannya
sebagai kerajaan islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M,
sebagai hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah
disinggahi pedagang-pedagang muslimsejak abad ke-7, ke-8 Masehi, dan
seterusnya.[3] Dari segi peta politik,
munculnya kerajaan Samudera Pasai abad ke-13 M itu sejalan dengan suramnya
peranan maritim kerajaan Sriwijaya, yang sebelumnya memegang peranan penting di
kawasan Sumatera dan sekelilingnya.[4]
Terdapat
petunjuk bahwa tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudra Pasai adalah Muara
Sungai Peusangan, sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur
pantai yang memudahkan perahu-perahu dan kapal-kapal mengayuhkan dayungnya ke
pedalaman dan sebaliknya. Ada dua kota yang terletak bersebrangan di muara
sungai Peusangan itu, Pasai dan Samudera. Kota Samudra terletak agak lebih ke
pedalaman, sedangkan kota Pasai terletak lebih kemuara.
Pendapat
bahwa Islam sudah berkembang disana sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh
berita Cina dan pendapat Ibn Batutah, seorang pengembara terkenal asal Marokko,
yang pada pertengahan abad ke-14 M (tahun 746 H/1345 M) mengunjungi Samudra
Pasai dalam perjalanannya dari Delhi ke Cina. Ibnu Batutah menyatakan bahwa
islam sudah hampir satu abad lamanya di siarkan disana. Ia meriwayatkan
kesalehan, kerendahan hati, dan semangat ke agamaan rajanya yang seperti
rakyatnya, mengikuti mazhab Syafi’i. Berdasarkan beritanya pula, kerajaan
Samudra Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul
ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi masalah keagamaan dan
keduniaan.
Keterangan
Ibnu Batutah tersebut dapat di tarik kesimpulan, bahwa sistem pendidikan yang
berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut :
1.
Materi
pendidikan dan pengajaran agama di bidang syariat Fiqh mazhab Syafi’i
2.
Sistem
pendidikan secara non-formal berupa majlis taklim dan halaqah
3.
Pejabat
pemerintahan merangkap sebagai tokoh ulama
4.
Baiya
pendidikan bersumber dari negara [5]
Di
antara pejabat pemerintahan yang merupakan ulama yang alim antara lain:
1.
Sri Kaya
Ghisayuddin, sebagai Perdana Menteri
2.
Sayid Ali
al-Makrany, sebagai Syakh al-Islam
3.
Bawa Kayu
Ali Hisamuddin al-Malabary, sebagai Menteri Luar Negeri
Samudera
Pasai berada di puncak kejayaannya ketika masa pemerintahan Sultan Ahmad Bahian
Syah Malik Zahir pada tahun 727-750 H/1326-1345 M.
Sejarah
mencatat, bahwa kerajaan Samudra Pasai ini pernah mengalami kemajuan dalam
seluruh bidang kehidupan, yakni kemajuan dalam bidang perekonomian yang
berbasis pada perdagangan dan pelayaran yang memperoleh keuntungan dan pajak
yang besar, yakni sebesar 6% dari total barang yang di jual. Hal ini terjadi,
karena Samudra Pasai dilihat dari segi geografis dan sosial ekonomi, memeng
merupakan suatu daerah yang penting sebagai penghubung antara pusat-pusat
perdangan yang terdapat di kepulauan Indonesia, Cina dan Arab.
Kemajuan
dalam bidang perekonomian dan perdagangan ini di perkuat dengan adanya mata
uang dirham dari Samudra Pasai, adanya mata uang itu membuktikan bahwa kerajaan
ini pada saat itu merupakan kerajaan yang makmur. Mata uang dirham dari Samudra
Pasai tersebut pernah di teliti oleh H.K.J. Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti
sejarah Raja-raja Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama Sultan Alauddin,
Sultan Manshur Malik Al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah. Pada tahun 1973 ,
di temukan lagi 11 mata uang dirham yang di antaranya bertuliskan nama Sultan
uhammmad MalikAl-Zahir, Sultan Ahmad, Sultan Abdullah yang semuanya adalah
raja-raja Samudra Pasai pada abad ke -14 dan 15 M.
Atas
dasar mata uang emas yang di temukan itu, maka nama-nama raja Samudra Pasai dan
urutannya dapat di ketahui dengan jelas, adalah sebagai berikut:
1.
Sultan
Malik Al-Saleh yang memerintah sampai tahun 1207 M
2.
Muhammad
Malik Al-Zahir (1297-1326 M )
3.
Mahmud
Malik Al-Zahir (1326-1345 M )
4.
Manshur
Malik Al-Zahir ( 1345-1346 M )
5.
Ahmad Malik
Al-Zahir (1346-1383 M )
6.
Zain
Al-Abidin Malik Al-Zahir (1383-1405 M )
7.
Nahrasiyah
(1402-? )
8.
Abu Zaid
Malik Al-Zahir ( ?-1455 M )
9.
Mahmud
Malik Al-Zahir ( 1455-1477 M )
10.
Zain
Al-Abidin (1477-1500 M )
11.
Abdullah Malik
Al-Zahir (1501-1513 M )
12. Zain Al-Abidin (1513-1524 M )[6]
Kerajaan
Samudra Pasai ini berlangsung sampai dengan tahun 1524 M. Karena pada tahun
1521 M, kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga
tahun, dan pada tahun 1524 M, kerajaan tersebut dianeksasi oleh raja Aceh, Ali
Mughayatsyah. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai ini berada di bawah pengaruh
kesultanan Aceh yang berpusat di Banda Aceh Darussalam .[7]
b.
Kerajaan
Aceh Darussalam
Kerajaan
Aceh Darussalam didirikan di atas puing-puing kerajaan Lamuri pada abad ke-15
M. Oleh Mudzaffar Syah ( 1465-1497 M ). Sebuah sumber lain menyebutkan, bahwa
kerajaan Aceh Darussalam merupakan penyatuan dari dua karajaan kecil, yaitu
Lamuri dan Aceh Dar al-Kamal dengan rajanya yang pertama Ali Mughayatsyah.
Pertumbuhan
kerajaan Aceh disebabkan kemajuan perdaganganpada permulaan abad ke-15 M. Jalan
dagang yang sebelumnya dari laut Jawa ke utara melalaui selat karimata terus ke
Makala, pindah melalui Selat Sunda dan menyusur pantai Barat Sumatra, terus ke
Aceh. Dengan demikian, Aceh menjadi ramai dikunjungi oleh para saudagar dari
berbagai negeri.
Ali
mughayatssyah meluaskan wilayah kekuasaannya ke daerah Pidie yang bekerjasama
dengan Portugis, kemudian ke Pasai pada tahun 1524 M. Dengan kemenangannya
terhadap dua kerajaan trsebut, Aceh dengan mudah melebarkan sayap kekuasaannya
ke Sumatera Timur. Untuk mengatur daerah Sumatera Timur, raja Aceh mengirim
panglima-panglimanya, salah seorang diantaranya adalah Gocah, pahlawan yang
menurunkan sultan-sultan Deli dan Serdang.[8]
Peletak
dasar kebesaran kerajaan Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah yang bergelar
Al-Qahar. Dalam menghadapi bala tentara Portugis ia menjalin hubungan
persahabatan dengan kerajaan Usmani di Turki dan negara-negara Islam yang lain
di Indonesia.
Puncak
kebesaran Aceh terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda ( 1608-1637 ). Pada
masanya Aceh menguasai seluruh pelabuhan di pesisir Timur dan Barat Sumatera.
Dari Aceh, Tanah Gayo yang berbatasan diislamkan, juga Minangkabau. Hanya
orang-orang kafir Batak yang berusaha menangkis kekuatan-kekuatan Islam yang
datang, bahkan mereka melangkah begitu jauh sampai minta bantuan Portugis.[9]
Untuk mengalahkan Portugis, Sultan kemudian bekerjasama dengan musuh Portugis,
yaitu Belanda dan Inggris.
Kepopuleran
Iskandar Muda dapat di lihat dari nama-nama yang dipakai yaitu Dharma Wangsa,
Perkasa Alam, Johan Berdaulat, sedangkan sesudah wafat disebut Marhum Mahkota
Alam.[10]
Pada zaman kebesaran Aceh terkenal empat ulama besar, yaitu Hamzah Fansuri,
Symsuddin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan Abd. Rauf Singkel.
Setelah
Iskandar Muda wafat digantikan oleh Sultan
Iskandar Thani. Tata pemerintahan Aceh diatur dalam undang-undang yang
disebut Adat Mahkota Alam. Berdasarkan tata pemerintahan tersebut, wilayah
Acehdibagi dalam wilayah sagi dan wilayah pusat kerajaan. Setiap sagi terdiri
dari sejumlah mukmin dan dikepalai oleh panglima sagi yang disebut hulubalang
besar.
Masyarakat
Aceh dikelompokkan dalam golongan Teuku, yakni golongan masyarakat bangsawan,
dan golongan Tengku, yakni golongan agama. Penghasilan Kerajaan Aceh didapat
dari penarikan pajak dan cukai yang terdiri dari beberapa macam antara lain
pajak pasar dan cukai intan. Dalam bidang sastra, Aceh banyak melahirkan
tokoh-tokoh, antara lain Syamsuddin Pasai, Hamzah Fansyuri, Nuruddin ar-Raniri,
dan Abdul al-Rauf. Nuruddin ar-Raniri mengarang Bustanus Salatin (taman
raja-raja dan adat istiadat Aceh serta ajaran Islam). Abdul al-Rauf dari
Singkel (Syeikh Kuala) membuat tafsir Alquran dalam bahasa Melayu. Ia menentang
aliran heterodoks (makhluk yang diciptakan sebagai
penampilan
dari penciptanya). Aliran yang dianutnya adalah aliran ortodoks, yakni Allah pencipta
dan makhluk ciptaan-Nya tidak dapat mengetahui keadaan-Nya.
Pada
masanya, Aceh terus berkembang untuk masa beberapa tahun. Pengetahuan agama
maju dengan pesat. Akan tetapi, kematiannya diikuti oleh masa-masa bencana. Tak
kala beberapa sultan perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699,
beberapa wilayah taklukannya, lepas dan kesultanan menjadi terpecah belah.
Setelah itu, pemulihan kembali kesultanan tidak banyak bermanfaat, sehingga
menjelang abad ke-18 M kesultanan Aceh merupakan bayangan-bayangan belaka dari
masa silam dirinya, tanpa kepemimpinan dan kacau balau.[11]
Menurut
H. J. De Graaf, Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi bagian dari
wilayah Aceh dan pergantian agama di perkirakan terjadi mendekati pertengahan
abad ke-14.[12]
Sedangkan
sistem pendidikan di kerajaan Aceh di kembangkan pada lembaga pendidikan antara
lain
1.
Balai seutia hukama
2.
Balai seutia ulama
3.
Balai jama’ah himpunan
ulama
Adapun
jenjang pendidikan yang ada menurut Hasbullah adalah sebagai berikut
1.
Meunasah (Madrasah)
2.
Rangkang
3.
Dayah
4.
Dayah teuku cik
c.
Kerajaan siak (Riau)
Di
perkirakan islam masuk ke kerajaan siak pada abad ke-12 M.Ini dapat di lihat
pada peninggalan kuburan bertahun 1128 M yang bercorak islam,yaitu kuburan Nizamuddin
al-Kamil seorang laksamana dari daulah Fatimiyah.
Adapun
tentang 4 penyiar islam dari negri arab yang turun ke negri bawah angin, mereka
adalah:
1.
Sayid Abdullah al-Kudsi
2.
Sayid Usman Ibn
Syahabudin
3.
Sayid Muhammad Ibn
Ahmad al-Aydrus
4.
Sayid Husi Ibn al-Gadri
d.
Kerajaan Minangkabau(Sumatra
Barat)
Agama
islam dengan cepat dan pesat masuk ke daerah pesisir sumatra barat ini,terutama
di kota-kota pelabuhan yang penting sperti
Pairaman,Tiku,Padang,Indrapura,Painan,Salido,dan lain-lain.[13]
Pada
abad ke-17 islam sudah merata tersebar di Minangkabau bahkan rajanya pun sudah
memeluk agama islam yaitu raja Alam Alif.[14]Setelah
berdirinya kerajaan islam di Minangkabau ini maka hukuman yang berlaku,yaitu
hukuman adat dan hukuman syara,’yaitu setelah terjadi penyesuaian antara hukum
adat dan hukum islam.Penyesuaian itu dikukuhkan dalam Traktak Marapalam
yaitu”Adat Basandi Syara”,Syara’Basandi Kitabullah,”Keberadaan Surau sebagai
tempat mengaji dan belajar pengetahuan agama tidak hanya dalam wilayah suku
yang sempit,tapi juga dalam wilayah teritorial Nagari yang lebih luas,disebut
Surau Nagari.[15]Pengaruh Surau di
tengah-tengah masyarakat tidak hanya di tentukan oleh jumlah murid saja,namun
yang paling menonjol adalah kharisman dan Syekh.Merupakan titik sentral
keberlangsungan sebuah Surau. Surau tidak hanya di dirikan sebagai sebuah
lembaga pendidikan islam saja,tapi juga sebagai titk sentral bangi keseluruhan
islamisasi di Minangkabau.
e.
Kerajaan
Sriwijaya(Sumatra Selatan)
Islam
masuk ke bumi Sriwijaya pada abad ke-7.Karena Sriwijaya sering di kunjungi pada
pedagang arab pada jalur pelayaran,maka islam saat itu merupakan proses awal
islamisasi atau permulaan perkenalan masyiarakat dengan islam.China di jaman
dinasti T’ang tersebut telah ada kampung arab muslim di pantai Barat Sumatra
pada tahun 674 M.[16]
Menurut
Tufik Abdullah,[17]Raden Patah yang menurut
tradisi historis,adalah anak raja Majapahit,yang bernama Brawijaya kawin dengan
putri china yang di lahirkan dan berguru di Palembang.
Para ulama yang terkenal di kerajaan Sriwijaya
di antaranya :
1.
Syarif Abu
Bakar
2.
Sayyid
Jamaluddin
3.
Di samping
itu ada pula ulama-ulama di jaman ke sultanan,di antaranya :
Kyai Haji Kemas Abd al-Shamad(K.H.K, Abd al-Shamad al-Falimbani)
Kyai Haji Masagus Abdul Hamid Ibn Masagur Muhammad(Kyai Maragon)
Ada
tiga ulama yang berpengaruh di daerah Komering Ulu dan Komering Ilir yaitu :
1.
Tuan Umar
Baginda Saleh/Said Umar Baginda Sari/Raden Amar/Ratu Pamembahan
2.
Tuan Tnjung
Darus(Idrus)Salam
3.
Tuan di
Pulau/Said Hanim al-Hamiem.
Ketiga
ulama di kenal sebagai waliyullah pembawa agama islam.[18]
C. BUKTI
MASUKNYA ISLAM KE SUMATERA
Bukti awal
mengenai agama Islam berasal dari seorang pengelana Venesia bernama Marco polo. Ketika singgah di sebelah utara pulau Sumatera, dia menemukan sebuah kota Islam bernama Perlakyang
dikelilingi oleh daerah-daerah non-Islam. Hal ini diperkuat oleh
catatan-catatan yang terdapat dalam buku-buku sejarah seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.
Bukti kedua
berasal dari Ibnu Batutah ketika mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345
megatakan bahwa raja yang memerintah negara itu memakai gelar Islam yakni Malikut Thahbir bin Malik Al Saleh.
Bukti ketiga
berasal dari seorang pengelana Portugis bernama Tome Pires, yang mengunjungi Nusantara pada awal abad ke-16. Dalam karyanya berjudul Summa Oriental, dia menjelaskan bahwa menjelang abad ke-13 sudah ada masyarakat Muslim di Samudera
Pasai, Perlak, dan Palembang. Selain itu di Pulau Jawa juga ditemukan makam Fatimah binti
Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 1082 M dan sejumlah makam Islam
di Tralaya yang berasal dari abad ke-13.
Bukti keempat
menurut catatan Dinasti Tang, para pedagang Ta-Shih(sebutan
bagi kaum Muslim Arab dan Persia) pada abad ke-9 dan ke-10 sudah ada di Kanton dan Sumatera.
[1]Badri Yatim,” Sejarah Peradaban Islam”,(Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2010, hlm 201
[2] Google, http://pingnet-krt.blogspot.com/2011/01/sejarah-islam-di-indonesia-sumatera.html
[3] Badri Yatim, op. Cit, hlm. 205.
[4] Ibid., hlm. 206
[5] Prof.DR. H. Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam
Mulia, 2012), hlm.222.
[6] Prof. Dr. H. Abudin Natta, M.A, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta:
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, 2010), hlm.160.
[7] Ibid., hlm.160.
[8] Dr. Badri Yatim, op cit,. Hlm.209
[9] Ibid., hlm. 210
[10] Prof. Dr. Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 25.
[11]Dr. Badri Yatim, M.A, op. Cit., hlm. 210
[12] Ibid., hlm. 209.
[13] Prof.DR.H.Ramayulis,op.cit;hlm.227.
[14] Ibid ;hlm.227.
[15] Ibid ;hlm 228.
[16] Ibid ;hlm 229.
[17] Ibid ;hlm 229.
[18] Ibid ;hlm 230.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar